JAYAPURA-Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mulai melakukan survei lokasi pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di wilayah Papua. Direktur Jenderal Perikanan Tangkap KKP, Lotharia Latif, mengatakan tim kementerian saat ini turun langsung ke berbagai wilayah di tanah Papua untuk menindaklanjuti usulan pemerintah daerah terkait pembangunan kampung nelayan.
“Tim kami dari KKP saat ini sudah turun di tanah Papua (Papua, Papua Selatan, Papua Tengah, Papua Barat, dan Papua Barat Daya,” kata Latif usai kegiatan sosialisasi pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih, di kantor gubernur, Kamis (5/3).
Menurut Latif, hingga saat ini terdapat 179 titik lokasi yang telah terdata dari Provinsi Papua ditambah 29 titik usulan baru yang masih akan diverifikasi melalui survei lapangan. Khusus di Papua, diharapkan bisa dibangun 200 titik Kampung Nelayan Merah Putih.
“Sebab Papua paling besar kabupaten/kota dan juga memiliki wilayah perairan, kita berharap di Papua ini banyak kita bangun Kampung Nelayan Merah Putih. Sebab, akan banyak menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan nelayan,” ujarnya.
“Namun kami tetap membuka peluang, dengan harapan bisa membangun Kampung Nelayan Merah Putih secara luas di wilayah Papua,” sambungnya.
Ia menjelaskan bahwa pembangunan kampung nelayan tersebut diawali dengan pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih di Samberbinyeri, Kabupaten Biak Numfor, yang dijadikan sebagai role model atau percontohan.
Program ini diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, sekaligus memperkuat kesejahteraan masyarakat pesisir di Papua.
Selain pembangunan kampung nelayan, pemerintah juga akan memperkuat kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Papua untuk melakukan revitalisasi pelabuhan dan pasar ikan guna meningkatkan aktivitas ekonomi nelayan.
Sementara itu, Gubernur Papua Matius D. Fakhiri mengatakan Pemerintah Provinsi Papua telah mengusulkan 200 lokasi Kampung Nelayan Merah Putih, dengan 121 lokasi di antaranya dinilai telah siap untuk dibangun.
“Papua memiliki potensi besar di sektor kelautan karena wilayahnya didominasi oleh perairan. Karena itu, pengelolaan laut tidak hanya berfokus pada penangkapan ikan, tetapi juga pengembangan industri perikanan,” katanya.
“Kami akan berangkat dari pengelolaan laut yang baik. Tidak hanya tangkap ikan, tetapi juga membangun industrinya,” sambungnya.
Sambung Fakhiri, pengembangan sektor perikanan mulai menunjukkan hasil. Baru-baru ini Papua telah mengekspor 17 ton produk olahan tuna, dan ke depan jumlah tersebut ditargetkan meningkat.
“Kalau kemarin kita ekspor 17 ton, ke depan akan kita lipatgandakan. Harapannya ini bisa meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) Provinsi Papua,” katanya.