Wakil Wali Kota Jayapura, Rustan Saru menjelaskan, kondisi saat ini sudah jauh lebih baik dibandingkan beberapa tahun lalu. Jika sebelumnya sampah menumpuk hingga ratusan meter, kini pembersihan rutin mampu mencegah penumpukan dalam skala
Wakil Bupati Jayawijaya Ronny Elopere, S.IP, M.KP menyatakan kondisi seperti ini memang sangat merugikan dan mengganggu perekonomian di Jayawijaya, sehingga dilakukan pertemuan mendadak. Hasil pertemuan, disepakati jika hari Senin ini kelua
Dinas PUPR melalui Bina Marga Papua Pegunungan akhirnya melakukan normalisasi kali Tagi Distrik Bolakme. Normalisasi Kali Tagi ini sempat tertunda setelah adanya penolakan dari masyarakat. Kapolres Jayawijaya melalui K
Meski tidak diketahui pasti tumpukan sampah itu sejak kapan, namun menimbulkan pemandangan tak elok serta mengeluarkan bau tak sedap dan berpotensi mencemari lingkungan jika terus dibiarkan. Apalagi keberadaan sampah itu
Menurutnya, keberadaan tambang baru terungkap setelah pemerintah bersama masyarakat melakukan kerja bakti di kawasan muara. “Kalau tidak dilakukan pembersihan, mungkin kami tidak akan tahu ada aktivitas tambang di situ,”
Kegiatan pembersihan ini dipimpin Bupati Jayapura, Yunus Wonda dan diikuti sejumlah ASN serta warga kampung. Bupati mengamati langsung penyempitan Kali Jaifuri yang disebabkan oleh banyaknya potongan kayu yang menyumbat
Suasana di tepian Danau Sentani tidak lagi tenang seperti biasanya. Air yang terus naik selama hampir dua minggu terakhir membuat warga di sekitarnya cemas. Tak hanya naik melebihi batas normal, goncangan ombak juga memb
Akibat intensitas hujan yang tinggi, sejumlah titik di Kelurahan Tanjung Ria terendam air. Kondisi geografis wilayah yang berada di dataran rendah, ditambah luapan kali yang melintasi permukiman warga, memperparah genang
Tak hanya itu, gagahnya Gunung Cycloops atau Robongholo menambah takjubnya sumber daya alam yang yang menakjubkan. Gunung Cycloops yang berdiri gagah memayungi kota kecil di tepinya. Kawasan Bumi Khenambai Umbai ini teru
Warga Kelurahan Waihmorok, Distrik Abepura, Kota Jayapura mengaku kecewa dengan kinerja petugas kebersihan karena tidak konsisten mengangkut sampah warga sesuai jadwal yang disepakati.
Pria tersebut diketahui bernama Yusti berusia sekitar 20 tahun, yang menghabiskan waktu sebagai pendulang emas tradisional. Berdasarkan keterangan Kasubsie Operasi dan Siaga SAR Timika Charles Y. Batlajery, Yusti dilapor
Mantan Dandim 1702 transportasi untuk air ini memang dipandang sangat diperlukan meskipun ada jalan darat yang dibuka oleh pemerintah, akan tetapi aksesnya tak bisa sampai kepada masyarakat yang tinggal di pinggiran kali
Wakil Wali Kota Jayapura, Rustan Saru menegaskan bahwa untuk amengatasi persoalan persampahan ini, perlu ada kesinambunggan antara kebijakan pemerintah dan juga tindakan masyarakat.
Tak hanya itu, di pinggir jalan Kali Acay terdapat hewan ternak (Sapi) milik warga setempat. Melihat hal ini tak sedikit warga mengeluh, takut jatuh. Jika, suatu ketika hewan ternak tiba-tiba masuk ket engah jalan. Selai
Menurut Kaharuddin, sebagian besar sampah tersebut merupakan kiriman dari wilayah hulu yang kemudian terbawa arus hingga berhenti di trash trap atau jaring sampah Kali Acay. Dimana tumpukan sampah tersebut kembali terjad
Suara "sak sek sak sek" berpadu dengan gemericik aliran air sungai yang terlihat berwarna coklat. Mereka sibuk menggoyang wajan di tangan, sambil sesekali menyingkap butiran pasir dan lumpur, berharap ada butiran emas.
"Kita lihat sampah yang masuk di kali ini (Acay) adalah sampah yang tidak dibuang pada tempatnya, kami pemerintah kota setiap hari menyediakan dan melakukan pelayanan pengangkutan sampah. Ada trayek-trayek kita yang suda
“Pemerintah kota perlu mengoptimalkan anggaran daerah untuk penanganan sampah di kota-kota di tanah Papua, seperti Kota Jayapura, Kota Sorong, Kota Nabire, Manokwari, Wamena dan Merauke. Dan kami melihat Kota Jayapura me
Hal tersebut, menurut Jece Mano, disebabkan karena kurangnya sarana dan prasarana penunjang kebersihan lainnya yang dimiliki DLHK. Kondisi ini pun tidak mengurangi semangat pihaknya yang bertugas setiap hari di bantaran
Wakil Bupati Jayawijaya Ronny Elopere, S.IP, M.Kp menyatakan untuk tahun ini pihaknya belum melakukan perencanaan anggaran untuk melakukan sejumlah kegiatan khususnya dalam melakukan normalisasi kali yang ada di Jayawija
Akibatnya Kali Acay sering meluap dan menyebabkan banjir, terutama setelah hujan. Dikarenakan tumpukan sampah aliran sungai itu semakin banyak sehingga kapasitas tampung sungai semakin kecil serta jalur pengaliran air
Jika pada saat musim kemarau, menurut warga sekitar, Kali Acai bak neraka, karena akan mengeluarkan bau busuk yang menyengat. Di musim hujan meski tak lagi berbau, namun Kali Acai, sulit membuat warga tidur nyenyak. Pasalnya, ancaman luapan banjir sudah menjadi masalah tahunan yang seolah-olah sangat sulit diatasi.
Menangapi itu Kepada Balai Wilayah Sungai (BWS) Papua, Dave Muhaimin mengaku bahwa penanganan Kali Acay merupakan tangung jawab pihaknya di BWS. Namun, untuk penanganan sampah yang ada dalam Kali Acay itu, menurut Muhaimin, perlu koordinasi, duduk bersama antara BWS dan Pemkot dalam hal ini dinas terkait.
Pemandian Kali Bak terletak dibawah kaki gugun Cycloop, airnya jernih, sangat sejuk dan masih terdapat pepohonan yang sangat rimbun, sehingga kawasan Kali Bak jadi tempat santai yang sangat asri dan cocok bagi rekreasi keluarga.
Dia mengatakan, di jembatan kali ekspo itu sudah sangat lama masyarakat membuang sampah. Sebenarnya membuang sampah di tempat sementara itu tidak menjadi soal, karena selalu rutin diangkat oleh petugas dinas terkait. Namun masalahnya saat ini justru banyak sekali sampah yang dibuang ke situ jatuh ke sungai.
Pantauan Cenderawasih Pos Kamis (16/1), menunjukkan air di Kali Biru meski tak begitu deras, namun mengalir jernih. Pemandangan ini semakin menarik perhatian, pasalnya meski terdapat jemuran pakaian dan barang-barang rumah tangga di pinggir kali, kondisi lingkungan tetap terlihat bersih dan rapi.
Bukan hanya warga sekitar yang mengeluh, tetapi pengguna jalan yang melewati pinggiran kali tersebut pun merasa terganggu dengan bau yang muncul dari sungai tersebut. Apalagi keadaan tersebut di jalan yang sering dilewati masyarakat terutama pelajar.
Kejadian ini terjadi di seberang Gereja Marampa Kelurahan Waymhorock Distrik Abepura. Dan hasil olah TKP ditemukan sebilah pisau dan batu serta ada bercak darah disekitar lokasi kejadian yakni di dalam kamar kos milik korban.
Ahmad salah satu warga yang berdiam disekitar kawasan itu mengaku, cukup khawatir dengan kondisi itu. Apalagi belakangan ini intensitas hujan di kota Jayapura cukup tinggi. "Intensitas hujan belakangan ini cukup tinggi, jadi kami sangat takut juga, kadang hujan dibagian hulu, tiba-tiba muncul banjir,"katanya.
Kepala Dinas PUPR Kota Jayapura, Nofdy Rampi mengatakan, untuk meminimalisir dampak banjir di wilayah Kota Jayapura, pihaknya rutin melakukan pembersihan di sejumlah lokasi yang biasanya terkena dampak bencana.
Ia mengatakan ingin kondisi Kali Acay bisa kembali seperti sedia kala namun diakui ini sangat sulit mengingat kini lokasi pinggiran kali telah menjadi kawasan pemukiman. “Itu (pemukiman) tak lepas sebagai penyuplai sampah. Mungkin sekalipun tidak seperti dulu paling tidak bisa dirawatlah,” harapnya.
Jika menggunakan jalan saat ini jarak tempuhnya bisa lebih satu jam, namun jika dengan membuka jalan baru yang sudah ada ini, jarak tempuh di kedua kampung bisa lebih cepat, tidak sampai satu jam.
Kurangnya sosialisasi dari pemerintah serta kesadaran masyarakat sendiri akan kebersihan lingkungan masih kurang. Terutama bagi warga yang tinggal di sepanjang pinggiran Kali Acay, Abepura, Kota Jayapura, Papua. Fakta ini, terlihat masih banyaknya sampah yang dibuang ke dalam kali oleh oknum warga yang tidak bertanggung jawab.
Pantauan media ini, saluran air besar tersebut membentang sepanjang jalan masuk pasar otonom dan muaranya menyatu dengan Kali Acay di dermaga Abesauw. Kondisi saat ini ditumbuhi gulma yang hampir menutupi seluruh saluran air tersebut.