drg. Dhani Ayu Andini Ingatkan Bahaya Tidur Menganga dan Penggunaan Dot Berkepanjangan
JAYAPURA – Kebiasaan yang kerap dianggap sepele pada anak, ternyata dapat berdampak serius terhadap pertumbuhan gigi, rahang hingga bentuk wajah. Tidur dengan mulut terbuka atau menganga, penggunaan dot berkepanjangan, hingga kebiasaan mengisap jari disebut dapat memicu kelainan bentuk rahang dan susunan gigi apabila tidak ditangani sejak dini.
Hal tersebut disampaikan dokter spesialis ortodonti, drg. Dhani Ayu Andini Sp.Ort, dalam momentum peringatan Hari Kesehatan Ortodontik Sedunia atau World Orthodontic Health Day (WOHD) yang diperingati setiap 15 Mei.
Menurut drg. Dhani, peringatan WOHD menjadi momen penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait kesehatan mulut dan pentingnya pemeriksaan ortodonti sejak usia dini.
“Perawatan ortodonti bukan hanya soal merapikan gigi, tetapi juga menjaga fungsi mulut, pertumbuhan rahang, meningkatkan kepercayaan diri hingga kualitas hidup seseorang,” ujar drg. Dhani kepada Cepos saat ditemui di Abepura, Jumat (15/5) malam.
Ia menjelaskan, World Federation of Orthodontists (WFO) menetapkan WOHD sebagai upaya edukasi global mengenai pentingnya susunan gigi dan gigitan yang fungsional, sekaligus memperkenalkan peran dokter spesialis ortodonti dalam menangani kelainan gigi dan rahang.
Karena itu, ia mengimbau orang tua mulai memeriksakan kondisi ortodontik anak sejak usia 7 tahun agar gangguan pertumbuhan gigi dan rahang dapat dideteksi lebih awal.
Tidur Menganga Bisa Ubah Bentuk Wajah
Menurut drg. Dhani, kebiasaan tidur dengan mulut terbuka dapat mengganggu posisi normal lidah dan memengaruhi pertumbuhan rahang anak. “Mulut yang terus terbuka saat tidur membuat posisi lidah tidak berada pada tempat yang seharusnya, sehingga memengaruhi perkembangan rahang dan wajah anak,” jelasnya.
Ia mengatakan, pada balita dan anak-anak, kondisi tersebut dapat memicu perubahan bentuk wajah hingga menyebabkan kelainan paras apabila berlangsung dalam waktu lama.
Selain itu, pada usia remaja, kebiasaan tidur menganga juga membuat rongga mulut menjadi lebih kering sehingga meningkatkan risiko gigi berlubang.
drg. Dhani menyebut terdapat tiga kasus yang paling sering ditemukan akibat kebiasaan buruk tersebut.
Pertama, protrusif atau gigi tonggos, yaitu kondisi rahang atas tampak lebih maju dibanding rahang bawah. Kedua, retrusif, yakni rahang bawah terlihat lebih maju dibanding rahang atas. Ketiga, open bite atau gigitan terbuka, di mana gigi depan atas dan bawah tidak dapat menutup sempurna.
“Kasus-kasus ini banyak dipicu kebiasaan buruk sejak usia balita. Kalau dibiarkan, pertumbuhan rahang dan bentuk wajah bisa berubah,” katanya.
Ia menambahkan, dampak perubahan rahang dan wajah umumnya mulai terlihat pada usia 1 hingga 7 tahun, saat masa pertumbuhan wajah berlangsung sangat aktif.
Masih Bisa Diperbaiki Sebelum Dewasa
Meski demikian, drg. Dhani menegaskan perubahan posisi rahang dan gigi akibat kebiasaan buruk masih dapat diperbaiki selama masa pertumbuhan belum selesai.
Menurutnya, batas usia perawatan berbeda antara laki-laki dan perempuan karena pertumbuhan tulang yang tidak sama. “Untuk laki-laki biasanya masih bisa diperbaiki maksimal sampai usia 25 tahun, sedangkan perempuan sekitar usia 22 tahun. Sebelum melewati masa pertumbuhan itu, perubahan rahang masih bisa dilakukan melalui perawatan ortodonti,” jelasnya.