Houthi Serang Bandara Riyadh, Keselamatan Jemaah Umrah Terancam

JAKARTA – Serangan milisi Houthi terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh meningkatkan ancaman terhadap keselamatan jemaah umrah dan pelancong sipil di Arab Saudi. Serangan itu juga kembali menyoroti risiko terhadap infrastruktur penerbangan yang menjadi pintu masuk bagi umat Islam dari berbagai negara untuk beribadah ke Makkah dan Madinah.

Dilansir dari Saudi Gazette, Senin (12/10), serangan tersebut dinilai memperlihatkan peningkatan aksi kekerasan Houthi terhadap Arab Saudi. Perhatian kini kembali tertuju pada serangan-serangan sebelumnya yang menyasar Makkah dan Madinah, dua kota suci umat Islam, serta infrastruktur sipil yang melayani para pengunjungnya.

Rekaman yang beredar setelah serangan di Riyadh memperlihatkan jemaah umrah bersiap menaiki pesawat di bandara. Situasi itu menggambarkan risiko yang dihadapi para pelancong yang datang ke Arab Saudi untuk beribadah dan mengunjungi Dua Masjid Suci. Bagi jutaan umat Islam di seluruh dunia, bandara-bandara di Arab Saudi bukan sekadar tempat transit. Fasilitas tersebut menjadi pintu masuk bagi jemaah dan pengunjung yang hendak menuju Makkah dan Madinah untuk menjalankan ibadah.

Baca Juga :  Hari Batik, Bandara Sentani Gelar Fashion Show dan Melukis Batik di Bandara

Karena itu, serangan terhadap fasilitas penerbangan sipil tidak hanya mengganggu perjalanan udara. Aksi semacam itu juga dapat membahayakan nyawa jemaah, keluarga, dan penumpang lain yang berada di lokasi. Serangan terhadap Bandara Riyadh turut memunculkan pertanyaan mengenai klaim legitimasi keagamaan Houthi, terutama mengingat riwayat serangan kelompok tersebut yang diarahkan ke Makkah dan Madinah.

Tindakan menyerang infrastruktur penerbangan sipil yang digunakan para jemaah dinilai bertentangan dengan prinsip perlindungan terhadap orang tak bersalah dan penghormatan terhadap tempat-tempat suci. Serangan terbaru itu juga terjadi ketika pasukan Houthi menghadapi tekanan militer yang meningkat di Yaman. Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa serangan terhadap fasilitas sipil di Arab Saudi digunakan untuk menunjukkan kekuatan di tengah kemunduran di medan pertempuran.

Baca Juga :  Terminal Kargo Bandara Wamena Diharap Mendukung Kelancaran Logistik

Alih-alih hanya berhadapan dengan sasaran militer, Houthi terus mengancam bandara dan fasilitas sipil lainnya. Dampaknya, penumpang, termasuk perempuan, anak-anak, dan jemaah umrah, berisiko menjadi korban. Serangan yang sengaja menyasar warga sipil dan objek sipil juga berpotensi melanggar hukum humaniter internasional, yang melarang serangan terhadap pihak dan fasilitas yang tidak terlibat dalam pertempuran.

JAKARTA – Serangan milisi Houthi terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh meningkatkan ancaman terhadap keselamatan jemaah umrah dan pelancong sipil di Arab Saudi. Serangan itu juga kembali menyoroti risiko terhadap infrastruktur penerbangan yang menjadi pintu masuk bagi umat Islam dari berbagai negara untuk beribadah ke Makkah dan Madinah.

Dilansir dari Saudi Gazette, Senin (12/10), serangan tersebut dinilai memperlihatkan peningkatan aksi kekerasan Houthi terhadap Arab Saudi. Perhatian kini kembali tertuju pada serangan-serangan sebelumnya yang menyasar Makkah dan Madinah, dua kota suci umat Islam, serta infrastruktur sipil yang melayani para pengunjungnya.

Rekaman yang beredar setelah serangan di Riyadh memperlihatkan jemaah umrah bersiap menaiki pesawat di bandara. Situasi itu menggambarkan risiko yang dihadapi para pelancong yang datang ke Arab Saudi untuk beribadah dan mengunjungi Dua Masjid Suci. Bagi jutaan umat Islam di seluruh dunia, bandara-bandara di Arab Saudi bukan sekadar tempat transit. Fasilitas tersebut menjadi pintu masuk bagi jemaah dan pengunjung yang hendak menuju Makkah dan Madinah untuk menjalankan ibadah.

Baca Juga :  KPK Telusuri Penggunaan Aang Suap Diterima Ricky Ham Pagawak

Karena itu, serangan terhadap fasilitas penerbangan sipil tidak hanya mengganggu perjalanan udara. Aksi semacam itu juga dapat membahayakan nyawa jemaah, keluarga, dan penumpang lain yang berada di lokasi. Serangan terhadap Bandara Riyadh turut memunculkan pertanyaan mengenai klaim legitimasi keagamaan Houthi, terutama mengingat riwayat serangan kelompok tersebut yang diarahkan ke Makkah dan Madinah.

Tindakan menyerang infrastruktur penerbangan sipil yang digunakan para jemaah dinilai bertentangan dengan prinsip perlindungan terhadap orang tak bersalah dan penghormatan terhadap tempat-tempat suci. Serangan terbaru itu juga terjadi ketika pasukan Houthi menghadapi tekanan militer yang meningkat di Yaman. Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa serangan terhadap fasilitas sipil di Arab Saudi digunakan untuk menunjukkan kekuatan di tengah kemunduran di medan pertempuran.

Baca Juga :  September, Paus Fransiskus Berkunjung ke Indonesia

Alih-alih hanya berhadapan dengan sasaran militer, Houthi terus mengancam bandara dan fasilitas sipil lainnya. Dampaknya, penumpang, termasuk perempuan, anak-anak, dan jemaah umrah, berisiko menjadi korban. Serangan yang sengaja menyasar warga sipil dan objek sipil juga berpotensi melanggar hukum humaniter internasional, yang melarang serangan terhadap pihak dan fasilitas yang tidak terlibat dalam pertempuran.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya