JAYAPURA – Tanah Papua mengukuhkan posisinya sebagai salah satu wilayah linguistik paling kompleks sekaligus episentrum keragaman bahasa di dunia. Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, wilayah paling timur Indonesia ini tercatat memiliki 428 bahasa daerah yang hidup di tengah-tengah masyarakatnya.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Papua, Valentina Lovina Tanate, mengungkapkan bahwa kekayaan bahasa di Papua secara garis besar terbagi dalam dua rumpun utama, yakni rumpun Austronesia dan non-Austronesia (Papuan languages). Namun, keragaman ini bukan sekadar soal angka, melainkan pada keunikan struktur di setiap bahasanya.
“Kompleksitas tersebut terlihat sangat nyata dari tingginya variasi fonologis (sistem bunyi), morfologis (pembentukan kata), sintaksis (struktur kalimat), hingga sistem semantik (makna) yang berkembang unik pada masing-masing komunitas bahasa,” ujar Valentina kepada Cenderawasih Pos dalam keterangan tertulisnya, Selasa (18/5).
Meski menyandang predikat sebagai salah satu gudang bahasa dunia, Valentina mengingatkan adanya tantangan besar dalam menjaga kelestarian warisan budaya non-benda ini. Keunikan Papua tidak hanya terletak pada jumlah bahasanya, melainkan juga pada karakter sosial para penuturnya. Ia menjelaskan sebagian besar bahasa di Papua memiliki jumlah penutur yang relatif kecil dan digunakan pada wilayah geografis yang sangat terbatas. Dalam perspektif sosiolinguistik, kondisi seperti ini membuat bahasa-bahasa lokal di Papua menjadi sangat rentan terhadap arus perubahan sosial.
“Sebuah bahasa dengan jumlah penutur yang sedikit dapat mengalami kemunduran yang drastis hanya dalam waktu satu atau dua generasi saja. Hal ini terjadi ketika transmisi atau pewarisan bahasa dari orang tua ke anak (antargenerasi) mulai terputus,” jelasnya.
JAYAPURA – Tanah Papua mengukuhkan posisinya sebagai salah satu wilayah linguistik paling kompleks sekaligus episentrum keragaman bahasa di dunia. Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, wilayah paling timur Indonesia ini tercatat memiliki 428 bahasa daerah yang hidup di tengah-tengah masyarakatnya.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Papua, Valentina Lovina Tanate, mengungkapkan bahwa kekayaan bahasa di Papua secara garis besar terbagi dalam dua rumpun utama, yakni rumpun Austronesia dan non-Austronesia (Papuan languages). Namun, keragaman ini bukan sekadar soal angka, melainkan pada keunikan struktur di setiap bahasanya.
“Kompleksitas tersebut terlihat sangat nyata dari tingginya variasi fonologis (sistem bunyi), morfologis (pembentukan kata), sintaksis (struktur kalimat), hingga sistem semantik (makna) yang berkembang unik pada masing-masing komunitas bahasa,” ujar Valentina kepada Cenderawasih Pos dalam keterangan tertulisnya, Selasa (18/5).
Meski menyandang predikat sebagai salah satu gudang bahasa dunia, Valentina mengingatkan adanya tantangan besar dalam menjaga kelestarian warisan budaya non-benda ini. Keunikan Papua tidak hanya terletak pada jumlah bahasanya, melainkan juga pada karakter sosial para penuturnya. Ia menjelaskan sebagian besar bahasa di Papua memiliki jumlah penutur yang relatif kecil dan digunakan pada wilayah geografis yang sangat terbatas. Dalam perspektif sosiolinguistik, kondisi seperti ini membuat bahasa-bahasa lokal di Papua menjadi sangat rentan terhadap arus perubahan sosial.
“Sebuah bahasa dengan jumlah penutur yang sedikit dapat mengalami kemunduran yang drastis hanya dalam waktu satu atau dua generasi saja. Hal ini terjadi ketika transmisi atau pewarisan bahasa dari orang tua ke anak (antargenerasi) mulai terputus,” jelasnya.