Asap Karhutla Bisa Picu Asma Kambuh

Warga Rentan Diminta Waspada

JAYAPURA-Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar mengganggu jarak pandang. Paparan asap juga dapat memicu gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak, lanjut usia (lansia), serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit paru.

  Plt Direktur RSUD Jayapura, Andreas Pekey, mengingatkan kelompok rentan tersebut agar membatasi aktivitas di luar rumah selama kabut asap masih menyelimuti wilayah terdampak. Jika terpaksa keluar rumah, masyarakat disarankan menggunakan masker untuk mengurangi paparan asap ke saluran pernapasan.

  “Mereka yang sudah memiliki daya tahan tubuh rendah atau mempunyai masalah pernapasan merupakan kelompok yang paling rentan,” kata Andreas saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Kamis (15/10).

Baca Juga :  Ditemui Mama-mama PNG, Pemkot Jayapura Nyatakan Siap Kerjasama

  Menurutnya, paparan asap dapat menjadi faktor pemicu kambuhnya penyakit yang sebelumnya terkendali. Kondisi ini perlu diwaspadai, terutama oleh penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

  Karena itu, Andreas meminta masyarakat tidak menganggap remeh kabut asap yang semakin tebal. Selain mengurangi aktivitas di luar rumah, warga juga diimbau beristirahat di dalam rumah dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di ruang terbuka, termasuk saat berkendara dengan sepeda motor.

  “Yang perlu kita antisipasi adalah peradangan pada saluran pernapasan. Kalau memang tidak ada keperluan mendesak, sebaiknya tetap berada di rumah dan tidak terlalu banyak beraktivitas di luar,” ujarnya.

  Andreas menjelaskan, masyarakat yang memiliki kondisi paru-paru sehat mungkin tidak langsung merasakan dampak yang sama dengan penderita gangguan pernapasan. Namun, bagi mereka yang sudah memiliki riwayat penyakit paru, asap dapat menjadi pencetus kekambuhan sehingga perlu mendapat perhatian lebih.

Baca Juga :  BTM-YES Dukung Program Makan Sehat Bergizi 

Warga Rentan Diminta Waspada

JAYAPURA-Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar mengganggu jarak pandang. Paparan asap juga dapat memicu gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak, lanjut usia (lansia), serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit paru.

  Plt Direktur RSUD Jayapura, Andreas Pekey, mengingatkan kelompok rentan tersebut agar membatasi aktivitas di luar rumah selama kabut asap masih menyelimuti wilayah terdampak. Jika terpaksa keluar rumah, masyarakat disarankan menggunakan masker untuk mengurangi paparan asap ke saluran pernapasan.

  “Mereka yang sudah memiliki daya tahan tubuh rendah atau mempunyai masalah pernapasan merupakan kelompok yang paling rentan,” kata Andreas saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Kamis (15/10).

Baca Juga :  BPKAD Launching Program Inovasi Pelayanan

  Menurutnya, paparan asap dapat menjadi faktor pemicu kambuhnya penyakit yang sebelumnya terkendali. Kondisi ini perlu diwaspadai, terutama oleh penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

  Karena itu, Andreas meminta masyarakat tidak menganggap remeh kabut asap yang semakin tebal. Selain mengurangi aktivitas di luar rumah, warga juga diimbau beristirahat di dalam rumah dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di ruang terbuka, termasuk saat berkendara dengan sepeda motor.

  “Yang perlu kita antisipasi adalah peradangan pada saluran pernapasan. Kalau memang tidak ada keperluan mendesak, sebaiknya tetap berada di rumah dan tidak terlalu banyak beraktivitas di luar,” ujarnya.

  Andreas menjelaskan, masyarakat yang memiliki kondisi paru-paru sehat mungkin tidak langsung merasakan dampak yang sama dengan penderita gangguan pernapasan. Namun, bagi mereka yang sudah memiliki riwayat penyakit paru, asap dapat menjadi pencetus kekambuhan sehingga perlu mendapat perhatian lebih.

Baca Juga :  Ditemui Mama-mama PNG, Pemkot Jayapura Nyatakan Siap Kerjasama

Berita Terbaru

Artikel Lainnya