Meski demikian pihak RS mengaku bersyukur walaupun terdampak efisiensi, Gubernur Papua selaku kepala daerah tetap memberikan anggaran untuk RSJ Abepura mengontrak dokter spesialis tersebut selama kurang lebih setahun dengan menghabiskan anggaran kurang lebih sekitar 1,6 sampai 1,8 miliar dan hampir 100% anggaran itu gunakan semua.
Selain penyediaan dokter spesialis dan umum, manajemen rumah sakit juga membenahi sarana penunjang seperti instalasi air, kelistrikan, hingga integrasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS). Program perluasan layanan ini secara resmi mulai dioperasikan secara penuh pada awal Agustus lalu.
“Ini 1 Agustus 2026 sudah kita jalankan. Walaupun sudah dikasih anggarannya untuk setahun, tapi baru 1 Agustus kita mulai pekerjaan ini. Dan itu yang kita taruh komitmen sama dokter spesialis supaya segera 1 tahun dia bekerja,” jelas dr. Edyson.
Di samping meningkatkan taraf pelayanan kesehatan dasar, perluasan layanan ini ditujukan untuk mengubah persepsi publik terhadap keberadaan rumah sakit jiwa. Selama ini, pandangan stereotip di tengah masyarakat kerap memicu diskriminasi atau stigma terhadap pasien kejiwaan.
Dengan tersedianya dokter spesialis anak, psikolog, serta tim rehabilitasi medis, RSJ Abepura berkomitmen memberikan pendampingan secara holistik. Diharapkan, stigma diskriminatif perlahan hilang sehingga para pasien dapat menjalani pemulihan dengan baik dan kembali mandiri di tengah masyarakat.
“Kalau semakin tambah meluas, kita supaya jangan ada intimidasi bagi orang yang mempunyai gangguan kejiwaan. Sebab pandangan atau citra masyarakat itu kalau sudah dibilang khusus jiwa, sudah otomatis berpikiran negatif, padahal di sini kita juga ada penanganan gangguan hiperaktif anak,” tambahnya. (jim/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q