Karena itu, menurutnya, pengawasan orang tua menjadi bagian penting dalam membangun keamanan anak di ruang digital. Pengawasan tidak harus dilakukan dengan melarang anak menggunakan gadget, tetapi dengan mengetahui gim yang dimainkan, siapa yang berinteraksi dengan anak, serta berapa lama waktu yang dihabiskan untuk bermain.
“Yang paling penting adalah komunikasi. Orang tua harus mengetahui aktivitas anak di dunia digital dan memberikan pemahaman mengenai risiko berkomunikasi dengan orang yang tidak dikenal,” ujarnya.
Axel juga mengingatkan agar orang tua tidak menunggu sampai terjadi masalah untuk mulai melakukan pengawasan. Anak perlu dibekali pemahaman bahwa tidak semua orang yang ditemui di dunia maya memiliki niat baik.
Orang tua juga disarankan mengajarkan anak untuk tidak memberikan informasi pribadi, seperti nama lengkap, alamat rumah, nomor telepon, sekolah, kata sandi, maupun foto pribadi kepada orang yang baru dikenal melalui internet.
“Anak-anak perlu diberikan pemahaman bahwa dunia digital juga memiliki risiko. Kalau ada orang yang mengajak melakukan sesuatu yang mencurigakan atau melanggar hukum, segera sampaikan kepada orang tua,” katanya.
Menurut Axel, pencegahan tidak hanya menjadi tanggung jawab aparat penegak hukum. Keluarga, sekolah dan masyarakat memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan digital yang aman bagi anak.
Dengan pengawasan yang tepat dan komunikasi yang terbuka, gadget dan gim online tetap dapat menjadi sarana hiburan sekaligus mendukung perkembangan anak tanpa membuka ruang bagi pihak-pihak yang ingin memanfaatkannya untuk kepentingan kejahatan.(dil/wen)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q