Wednesday, January 14, 2026
26.9 C
Jayapura

Inlasi Papua Pegunungan Pada Desember Capai 3,22 Persen

WAMENA – Badan Pusat Statistik (BPS) Jayawijaya mencatat inflasi year on year (y-on-y) Provinsi Papua Pegunungan pada Desember 2025 sebesar 3,22 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 115,40. Angka tersebut menunjukkan adanya kenaikan harga dibandingkan Desember 2024 yang tercatat sebesar 111,80.

Kepala BPS Kabupaten Jayawijaya Arther Pammisa menyatakan inflasi tahunan tersebut dipicu oleh kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran utama. Kenaikan terbesar terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 6,76 persen,

“Inflasi juga terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,14 persen; perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 1,28 persen; kesehatan sebesar 0,91 persen; rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 2,98 persen serta perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 3,36 persen.”ungkapnya Selasa (6/1)

Baca Juga :  AJI Minta Provokator Pengeroyokan Dua Wartawan, Diproses

Menurutnya, Sementara untuk beberapa kelompok pengeluaran justru mengalami penurunan indeks harga, seperti kelompok transportasi yang mengalami deflasi sebesar 8,43 persen, diikuti pakaian dan alas kaki sebesar 0,81 persen, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,58 persen, serta pendidikan sebesar 0,55 persen. Kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran tercatat relatif stabil.

“Pada Desember 2025 inflasi month to month (m-to-m) Papua Pegunungan tercatat sebesar 1,58 persen, sedangkan inflasi year to date (y-to-d) mencapai 3,22 persen.”jelasnya

Kenaikan harga komoditas pangan menjadi faktor utama penyumbang inflasi di Provinsi Papua Pegunungan pada Desember 2025 yang didorong terutama oleh lonjakan harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Baca Juga :  Tak Ditemukan Polisi Main Judi Online

“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi tertinggi, yakni 6,76 persen, sekaligus memberikan andil inflasi y-on-y sebesar 3,65 persen.” jelas Arther

WAMENA – Badan Pusat Statistik (BPS) Jayawijaya mencatat inflasi year on year (y-on-y) Provinsi Papua Pegunungan pada Desember 2025 sebesar 3,22 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 115,40. Angka tersebut menunjukkan adanya kenaikan harga dibandingkan Desember 2024 yang tercatat sebesar 111,80.

Kepala BPS Kabupaten Jayawijaya Arther Pammisa menyatakan inflasi tahunan tersebut dipicu oleh kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran utama. Kenaikan terbesar terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 6,76 persen,

“Inflasi juga terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,14 persen; perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 1,28 persen; kesehatan sebesar 0,91 persen; rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 2,98 persen serta perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 3,36 persen.”ungkapnya Selasa (6/1)

Baca Juga :  Demo Tolak Pembangunan Kantor Gubernur PP

Menurutnya, Sementara untuk beberapa kelompok pengeluaran justru mengalami penurunan indeks harga, seperti kelompok transportasi yang mengalami deflasi sebesar 8,43 persen, diikuti pakaian dan alas kaki sebesar 0,81 persen, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,58 persen, serta pendidikan sebesar 0,55 persen. Kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran tercatat relatif stabil.

“Pada Desember 2025 inflasi month to month (m-to-m) Papua Pegunungan tercatat sebesar 1,58 persen, sedangkan inflasi year to date (y-to-d) mencapai 3,22 persen.”jelasnya

Kenaikan harga komoditas pangan menjadi faktor utama penyumbang inflasi di Provinsi Papua Pegunungan pada Desember 2025 yang didorong terutama oleh lonjakan harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Baca Juga :  Rangkaian Perayaan HUT Pekabaran Injil di Lembah Baliem Muali Dipersiapkan

“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi tertinggi, yakni 6,76 persen, sekaligus memberikan andil inflasi y-on-y sebesar 3,65 persen.” jelas Arther

Berita Terbaru

Artikel Lainnya