Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak Karhutla terhadap satwa tidak hanya terjadi pada saat api berkobar. Setelah kebakaran berlalu, satwa yang berhasil menyelamatkan diri masih harus menghadapi perubahan kondisi habitat. Kawasan yang sebelumnya menjadi tempat mencari makan dan berlindung dapat berubah akibat vegetasi yang terbakar.
Perpindahan satwa ke lokasi lain juga menjadi salah satu konsekuensi dari rusaknya habitat akibat kebakaran. Satwa harus beradaptasi dengan lingkungan baru untuk mendapatkan tempat tinggal dan sumber makanan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Meski demikian, hingga saat ini belum diketahui secara pasti berapa banyak satwa yang menjadi korban langsung akibat Karhutla di wilayah terdampak. KSDA Wilayah I Merauke belum melakukan kajian khusus untuk memastikan jumlah maupun jenis satwa yang mati akibat kebakaran. “Terkait satwa yang mati sampai saat ini belum ada kajian,” jelas Agung.
Ia menjelaskan, satwa yang memiliki kemampuan bergerak cepat relatif lebih memungkinkan untuk menyelamatkan diri dengan berpindah menjauhi kawasan yang terbakar. Sebaliknya, satwa dengan pergerakan lambat memiliki risiko lebih besar ketika menghadapi kobaran api. “Sebagian besar adalah satwa serangga atau hewan melata yang pergerakannya lambat,” katanya. (ulo/wen)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak Karhutla terhadap satwa tidak hanya terjadi pada saat api berkobar. Setelah kebakaran berlalu, satwa yang berhasil menyelamatkan diri masih harus menghadapi perubahan kondisi habitat. Kawasan yang sebelumnya menjadi tempat mencari makan dan berlindung dapat berubah akibat vegetasi yang terbakar.
Perpindahan satwa ke lokasi lain juga menjadi salah satu konsekuensi dari rusaknya habitat akibat kebakaran. Satwa harus beradaptasi dengan lingkungan baru untuk mendapatkan tempat tinggal dan sumber makanan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Meski demikian, hingga saat ini belum diketahui secara pasti berapa banyak satwa yang menjadi korban langsung akibat Karhutla di wilayah terdampak. KSDA Wilayah I Merauke belum melakukan kajian khusus untuk memastikan jumlah maupun jenis satwa yang mati akibat kebakaran. “Terkait satwa yang mati sampai saat ini belum ada kajian,” jelas Agung.
Ia menjelaskan, satwa yang memiliki kemampuan bergerak cepat relatif lebih memungkinkan untuk menyelamatkan diri dengan berpindah menjauhi kawasan yang terbakar. Sebaliknya, satwa dengan pergerakan lambat memiliki risiko lebih besar ketika menghadapi kobaran api. “Sebagian besar adalah satwa serangga atau hewan melata yang pergerakannya lambat,” katanya. (ulo/wen)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q