Kekeringan dan Karhutla, Pengelolaan Hutan Konservasi Kali Bian Diperkuat

MERAUKE – Kondisi kekeringan yang terjadi akibat fenomena El Nino menjadi perhatian dalam pengelolaan Hutan Konservasi Kali Bian. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan serta dapat berdampak langsung terhadap masyarakat di sekitar kawasan konservasi.

Hal tersebut disampaikan dalam Konsultasi Publik Tahun 2026 terkait pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat yang melibatkan pemerintah, perusahaan, masyarakat serta para pemangku kepentingan lainnya.

Dalam forum tersebut disampaikan bahwa Hutan Konservasi Kali Bian memiliki fungsi penting bagi kehidupan, terutama dalam menjaga keanekaragaman hayati serta mempertahankan interaksi masyarakat adat dengan alam dan budaya yang telah berlangsung selama ini.

“Kalau terjadi perubahan atau kerusakan, tentunya akan berdampak tidak hanya terhadap keanekaragaman hayatinya, tetapi juga kepada masyarakat,” Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Johny Santoso, di Merauke, Rabu (7/10).

Baca Juga :  Tingkatkan Kualitas Pendidikan, Babinsa Mengajar di SD

Dikatakan,  kondisi kekeringan saat ini perlu menjadi perhatian bersama. Berdasarkan informasi yang diterima, Kabupaten Merauke telah mengalami kondisi tanpa hujan selama sekitar 3 bulan. Kondisi tersebut mulai berdampak terhadap ketersediaan air bagi masyarakat.

“Air di kampung juga sudah hampir tidak ada di sumur-sumur kampung. Kebakaran sangat mudah terjadi dan mudah untuk menyebar. Dan lagi-lagi yang menerima dampaknya adalah masyarakat,” katanya.

MERAUKE – Kondisi kekeringan yang terjadi akibat fenomena El Nino menjadi perhatian dalam pengelolaan Hutan Konservasi Kali Bian. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan serta dapat berdampak langsung terhadap masyarakat di sekitar kawasan konservasi.

Hal tersebut disampaikan dalam Konsultasi Publik Tahun 2026 terkait pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat yang melibatkan pemerintah, perusahaan, masyarakat serta para pemangku kepentingan lainnya.

Dalam forum tersebut disampaikan bahwa Hutan Konservasi Kali Bian memiliki fungsi penting bagi kehidupan, terutama dalam menjaga keanekaragaman hayati serta mempertahankan interaksi masyarakat adat dengan alam dan budaya yang telah berlangsung selama ini.

“Kalau terjadi perubahan atau kerusakan, tentunya akan berdampak tidak hanya terhadap keanekaragaman hayatinya, tetapi juga kepada masyarakat,” Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Johny Santoso, di Merauke, Rabu (7/10).

Baca Juga :  Lima Distrik se Wilayah Walak Sepakat Berikan Sanksi Adat bagi Pelaku Karhutla

Dikatakan,  kondisi kekeringan saat ini perlu menjadi perhatian bersama. Berdasarkan informasi yang diterima, Kabupaten Merauke telah mengalami kondisi tanpa hujan selama sekitar 3 bulan. Kondisi tersebut mulai berdampak terhadap ketersediaan air bagi masyarakat.

“Air di kampung juga sudah hampir tidak ada di sumur-sumur kampung. Kebakaran sangat mudah terjadi dan mudah untuk menyebar. Dan lagi-lagi yang menerima dampaknya adalah masyarakat,” katanya.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya