Dengan demikian, ia merasa senang karena selalu dipuji oleh gurunya ketika aktif menjawab pertanyaan yang diberikan. Ia menjadi salah satu siswa yang aktif di kelas dan beberapa kali dipercaya membantu menjelaskan soal kepada teman-temannya. Menjelang ujian nasional, beberapa kali ia bahkan mampu memperoleh nilai tertinggi di kelas untuk beberapa mata pelajaran ketika try out dan ujian sekolah. Pengalaman tersebut menjadi salah satu pelajaran penting yang terus dibawanya hingga dewasa.
Bahwa seseorang tidak selalu harus menjadi yang paling pintar sejak awal untuk dapat berkembang. Memasuki SMP, Krisna tidak hanya belajar di sekolah. Untuk membantu kondisi ekonomi keluarga, ia mulai berjualan jajan yang dibuat oleh ibunya di sekitar rumah dan ke panti jompo. Walaupun dengan beberapa kesibukan di rumah, ia tetap mempertahankan prestasi akademiknya dan aktif di kegiatan sekolah.
Ia pernah menjadi ketua kelas, pengurus OSIS, aktif dalam berbagai lomba pramuka, serta pernah mewakili sekolah untuk lomba cerdas cermat agama hindu. Krisna juga sering mendapatkan juara 1 dan 2 di kelas serta memperoleh nilai ujian nasional tertinggi di kelas saat itu. Namun, di balik berbagai aktivitas tersebut, rasa malu akibat kondisi ekonomi tetap menjadi bagian dari kehidupannya.
Ia sering dipanggil karena telat bayar buku LKS dan sering dihukum karena kaos kaki sering melorot. Bagi Krisna, pengalaman itu kemudian menjadi salah satu alasan mengapa ia memiliki keinginan kuat untuk mengubah kehidupannya. Titik balik terjadi ketika Krisna lulus SMP dan diterima di SMKN Bali Mandara. Sebuah sekolah berasrama yang didirikan khusus bagi anak-anak kurang mampu namun berpotensi untuk maju. Sekolah inilah yang kemudian mengubah banyak hidupnya.
Di sana, ia mendapatkan akses pendidikan gratis, lingkungan yang suportif, dan guru-guru yang membentuk karakternya. Namun perjalanan tak mudah. Kehidupan asrama dengan disiplin semi-militer memaksanya beradaptasi dari bangun pukul 04.45 pagi hingga tidur pukul 22.00 malam.Awalnya, ia justru menjadi salah satu siswa dengan nilai akademik terendah karena sering mengantuk di kelas. Namun ia tak menyerah. Ia memaksa diri untuk terus membaca meskipun mengantuk, dan belajar setiap malam untuk memahami materi keesokan harinya.
Di kelas 11, ia mulai berani tampil di depan umum dengan mengikuti berbagai lomba tingkat provinsi, diantaranya lomba pidato bahasa Indonesia, pidato bahasa Inggris, dharma wacana, hingga menyanyi solo. Hampir semua berakhir tanpa juara. Namun baginya, kegagalan itu justru menjadi pelajaran berharga tentang keberanian dan kegigihan. “Saya memang hampir tidak pernah mendapatkan juara dari lomba-lomba yang saya ikuti. Tetapi saya mendapatkan latihan mental dan keberanian. Saya belajar bahwa kalah bukan berarti usaha kita sia-sia,” tuturnya.