Atasi Ketimpangan Layanan Medis, Dokter dan Perawat Papua Harus Perkuat Skill

   Mengingat tingginya biaya pengiriman tenaga medis ke luar Papua untuk mengikuti pelatihan, PSU 2026 menjadi wadah yang efisien dan inklusif. Apalagi, Papua saat ini telah memiliki banyak dokter konsultan di berbagai bidang bedah, mulai dari bedah ortopedi, bedah onkologi, bedah saraf, hingga bedah vaskuler.

​  “Selama ini wadah untuk saling bertukar ilmu dan pengalaman antar-sejawat di Papua masih kurang. Dengan adatnya PSU di sini, lebih banyak peserta lokal yang bisa terjangkau,” tambahnya.

   Selain menghadirkan pemateri dari dokter spesialis dan konsultan lokal Papua, PSU 2026 juga menghadirkan dua Guru Besar dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, yaitu Prof. Dr. dr. Andi Asadul Islam, Sp.BS(K) (Pakar Bedah Saraf) dan Prof. Dr. dr. Tjahjadi Robert Riantono, Sp.B, Subsp.Onk(K) (Kepala Departemen Bedah Unhas).

Baca Juga :  Bina 35 Kelompok Tani, Tanam Jagung Manis di Lahan Seluas  25 hektar 

   Mengingat kesehatan merupakan kebutuhan dasar masyarakat bersama pendidikan, Dr. Jan Frits berharap kegiatan Papua Surgical Update dapat diselenggarakan secara rutin setiap tahun dan dijangkau hingga ke wilayah terisolir yang belum sempat mengirimkan perwakilannya tahun ini.

   Melihat krusialnya agenda ini, Gubernur Papua saat pembukaan acara menyampaikan apresiasi serta komitmen penuh untuk mendukung agar PSU dapat dijadikan agenda rutin tahunan. Dr. Jan Frits berharap dukungan serupa juga datang dari para Gubernur di provinsi-provinsi DOB hasil pemekaran serta jajaran DPR.

   Tak hanya jajaran pemerintahan, panitia juga menyoroti pentingnya keterlibatan tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam mengedukasi publik terkait budaya serta kebiasaan hidup sehat.

Baca Juga :  Pemprov Salurkan Rp5,75 Miliar Dana Hibah

   Mengingat tingginya biaya pengiriman tenaga medis ke luar Papua untuk mengikuti pelatihan, PSU 2026 menjadi wadah yang efisien dan inklusif. Apalagi, Papua saat ini telah memiliki banyak dokter konsultan di berbagai bidang bedah, mulai dari bedah ortopedi, bedah onkologi, bedah saraf, hingga bedah vaskuler.

​  “Selama ini wadah untuk saling bertukar ilmu dan pengalaman antar-sejawat di Papua masih kurang. Dengan adatnya PSU di sini, lebih banyak peserta lokal yang bisa terjangkau,” tambahnya.

   Selain menghadirkan pemateri dari dokter spesialis dan konsultan lokal Papua, PSU 2026 juga menghadirkan dua Guru Besar dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, yaitu Prof. Dr. dr. Andi Asadul Islam, Sp.BS(K) (Pakar Bedah Saraf) dan Prof. Dr. dr. Tjahjadi Robert Riantono, Sp.B, Subsp.Onk(K) (Kepala Departemen Bedah Unhas).

Baca Juga :  Lebih Sering Pakai Air Hujan dan Air Telaga, Kini Hanya Sekali Putar

   Mengingat kesehatan merupakan kebutuhan dasar masyarakat bersama pendidikan, Dr. Jan Frits berharap kegiatan Papua Surgical Update dapat diselenggarakan secara rutin setiap tahun dan dijangkau hingga ke wilayah terisolir yang belum sempat mengirimkan perwakilannya tahun ini.

   Melihat krusialnya agenda ini, Gubernur Papua saat pembukaan acara menyampaikan apresiasi serta komitmen penuh untuk mendukung agar PSU dapat dijadikan agenda rutin tahunan. Dr. Jan Frits berharap dukungan serupa juga datang dari para Gubernur di provinsi-provinsi DOB hasil pemekaran serta jajaran DPR.

   Tak hanya jajaran pemerintahan, panitia juga menyoroti pentingnya keterlibatan tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam mengedukasi publik terkait budaya serta kebiasaan hidup sehat.

Baca Juga :  Tempat Wisata yang Menarik, Sering Ternoda dengan Tumpukan Sampah

Berita Terbaru

Artikel Lainnya