Ditempat yang berbeda, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Wilayah Papua, Elia Waromi juga menyampaikan yang sama, bahwa Kabupaten Yahukimo terutama di wilayah distrik Anggruk merupakan daerah yang dahulunya (sebelum kejadian) terkenal dengan daerah yang aman dan jarang sekali terjadi konflik di wilayah tersebut.
Waromi pun mengaku kaget ketika mendengar peristiwa yang terjadi pada akhir pekan lalu itu. “Saya juga kaget ketika mendengar berita itu, saya merasa kecewa sekali. Wilayah itu dulunya sangat aman, masyarakat sangat ramah, jarang sekali mendengar konflik, wilayah itu berbeda dengan wilayah lain di Papua,” ungkap Waromi kepada Cenderawasih Pos, di Kotaraja, Rabu (26/3) siang.
Ketua PGRI mengungkapkan hal tersebut dikarenakan dirinya lahir besar di Wamena, mengikuti orang tua yang bertugas sebagai Gembala (Pendeta) dan mewartakan Injil di beberapa wilayah Papua Pegunungan termasuk distrik Anggruk.
Ceritanya, ketika orang tuanya bertugas ke Kabupaten Yahukimo untuk mewartakan Injil, Waromi mengaku beberapa kesempatan ia juga ikut. Tampak terlihat masyarakat lokal sangat menghormati tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga guru dan tenaga kesehatan.
“Dahulu itu disana di Yahukimo masyarakat sekitar sangat menghargai tokoh agama (Pendeta, Pastor), Guru dan para Nakes ini. Ketika ada masalah, masyarakat setempat ini lapornya kepada tokoh-tokoh ini, karena mereka percaya dan mengangap yang dapat menyelesaikan persolan mereka ini haya tokoh agama dan tenaga pendidikan itu,” terangnya. Lantas apa yang terjadi saat ini di Distrik Anggruk Kabupaten Yahukimo kata Waromi itu diluar pemikirannya.
“Yang jelas kami ikut menyesali insiden kemarin,” pungkasnya. Ditambahkan Dandim 1715/Yahukimo, Letkol Inf Tommy Yudistyo bahwa Anggruk adalah daerah yang aman. Namun kejadian lalu menjadi insiden yang mencederai komitmen masyarakat yang mendiami distrik ini. “Kami percaya sejak distrik ini dihuni masyarakat, itu tak memiliki niat jahat apalagi harus melukai orang. Itu karena warga setempat telah mendapatkan pelayanan keagamaan sehingga memahami mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh,” tambahnya.