Ditentang Ayah Hingga Perang Dingin,Berangkat dengan Modal Tak Sampai Rp 100 Ribu

Pelatih Woodball Kabupaten Probolinggo Nur Huda mengaku sudah melihat potensi besar Laily sejak pertama kali bergabung. Menurutnya, kemampuan Laily berkembang bukan hanya karena mengikuti jadwal latihan dari pelatih. Dia juga memiliki inisiatif tinggi untuk terus meningkatkan kemampuannya.

“Laily sering berlatih sendiri sepulang sekolah. Apalagi menjelang pertandingan selalu ke lapangan dan mengajak teman-temannya untuk berlatih tambahan,” terangnya.Semangat itu terlihat menonjol. Sebab, jarak dari rumah Laily di Paiton menuju lapangan latihan di Kadungcaluk, Kecamatan Krejengan, tergolong cukup jauh. Namun Laily hampir tidak pernah absen berlatih.

Tidak hanya disiplin terhadap dirinya sendiri. Ia juga kerap menjadi pemimpin bagi rekan-rekannya saat mengikuti kejuaraan. Huda menilai Laily memiliki karakter yang selalu ingin berkembang. ⁠”Laily lebih keras lagi untuk berlatih atau disiplin karena lawannya sedang tidak tidur untuk mengalahkannya,” terangnya. Selain disiplin, ketenangan menjadi keunggulan lain yang dimiliki Laily ketika bertanding. Ini sangat penting. Sebab, woodball adalah permainan individu.

Baca Juga :  Latih bagaimana Jaga Kualitas Produk dan Kemasan Hingga Pemasaran

“Saat tenang, maka ayunan mallet atau stik terkontrol dengan baik. Mohon doanya, semoga Laily dapat emas dalam ajang 10th World Cup Woodball Championship di Malaysia,” terangnya. Kini, gadis yang dahulu mengenal woodball karena ingin “jalan-jalan gratis” itu telah berdiri sejajar dengan atlet-atlet terbaik Indonesia. Perjalanannya dimulai dari rasa penasaran, ditempa oleh keterbatasan, diuji oleh penolakan keluarga, dan dibuktikan lewat kerja keras. (hn)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

 UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Pelatih Woodball Kabupaten Probolinggo Nur Huda mengaku sudah melihat potensi besar Laily sejak pertama kali bergabung. Menurutnya, kemampuan Laily berkembang bukan hanya karena mengikuti jadwal latihan dari pelatih. Dia juga memiliki inisiatif tinggi untuk terus meningkatkan kemampuannya.

“Laily sering berlatih sendiri sepulang sekolah. Apalagi menjelang pertandingan selalu ke lapangan dan mengajak teman-temannya untuk berlatih tambahan,” terangnya.Semangat itu terlihat menonjol. Sebab, jarak dari rumah Laily di Paiton menuju lapangan latihan di Kadungcaluk, Kecamatan Krejengan, tergolong cukup jauh. Namun Laily hampir tidak pernah absen berlatih.

Tidak hanya disiplin terhadap dirinya sendiri. Ia juga kerap menjadi pemimpin bagi rekan-rekannya saat mengikuti kejuaraan. Huda menilai Laily memiliki karakter yang selalu ingin berkembang. ⁠”Laily lebih keras lagi untuk berlatih atau disiplin karena lawannya sedang tidak tidur untuk mengalahkannya,” terangnya. Selain disiplin, ketenangan menjadi keunggulan lain yang dimiliki Laily ketika bertanding. Ini sangat penting. Sebab, woodball adalah permainan individu.

Baca Juga :  Tampil Apik, Berikut Profil Kiper Ikram Al Ghiffari Pentolan Semen Padang FC

“Saat tenang, maka ayunan mallet atau stik terkontrol dengan baik. Mohon doanya, semoga Laily dapat emas dalam ajang 10th World Cup Woodball Championship di Malaysia,” terangnya. Kini, gadis yang dahulu mengenal woodball karena ingin “jalan-jalan gratis” itu telah berdiri sejajar dengan atlet-atlet terbaik Indonesia. Perjalanannya dimulai dari rasa penasaran, ditempa oleh keterbatasan, diuji oleh penolakan keluarga, dan dibuktikan lewat kerja keras. (hn)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

 UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Berita Terbaru

Artikel Lainnya