“Hendaknya semboyan “Habis Gelap Terbitlah Terang” diyakini sebagai upaya kita untuk menjadi manusia yang tangguh dan tidak mudah menyerah, dimana beliau (RA Kartini) mendobrak tradisi yang membatasi gerak perempuan dan gigih memperjuangkan kesetaraan,” jelasnya.
Sulistiyowati kembali menjelaskan peringatan Hari Kartini menjadi momen penting, untuk menanamkan nilai-nilai perjuangan dan semangat kesetaraan kepada anak-anak sejak dini. Untuk membuat peringatan itu semakin semarak, pihak sekolah turut mengisinya dengan berbagai kegiatan perlombaan diantaranya; Lomba membawa nyiru di atas kepala, Lomba Sambung Lagu Nasional, Lomba Busana Nusantara, dan Lomba Merias Wajah.
Tidak hanya itu, penggunaan kebaya dan pakaian batik ini, juga menjadi sarana untuk menumbuhkan rasa cinta para siswa terhadap budaya bangsa. Kegiatan yang sama juga terjadi di SMP Negeri 5 Japura. Kepada Cenderawasih Pos Kepala Sekolah, (Kepsek) SMP N 5 Jayapura, Yosephin Septiana Wally, S.Pd, M.Pd berpendapat bahwa hari Kartini merupakan simbol emansipasi untuk terus berjuang memperoleh ruang bagi kaum perempuan dalam berkarya dan berinovasi.
“Kami para Pendidik dan Tenaga Kependidikan perempuan di SMP Negeri 5 Kota Jayapura memaknai hari Kartini tahun ini sebagai Hari Kebangkitan Perempuan dan ini menjadi momentum refleksi diri, penguatan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di segala sektor,” terangnya.
Lanjut ia menjelaskan refleksi hari kartini bukan sekedar seremonial tetapi merefleksikan kontribusi perempuan untuk memajukan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Serta penguatan kesetaraan gender dalam mewujudkan kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan, terutama dalam pendidikan dan kesempatan berkarya. Tak hanya di kedua sekolah itu, perayaan hari Kartini juga dilakukan di seluruh sekolah di Kota Jayapura, beberapa diantaranya, SMP YPPK St Paulus Abepura, SDN Kotaraja, hingga SMK Negeri 3 Jayapura.
Sementara itu, Wakil Ketua I DPR Papua, Herlin Beatrix Monim, mengatakan bahwa semangat Kartini mencerminkan perjuangan atas hak dasar perempuan untuk belajar, berpikir, menyampaikan pendapat, hingga menentukan masa depan.
Namun demikian, ia mengakui bahwa realitas di lapangan menunjukkan perjuangan tersebut belum sepenuhnya tuntas. Masih banyak perempuan yang belum memperoleh kesempatan dan kepercayaan untuk tampil sebagai pemimpin.