Bekerja masuk ke ruang privat orang lain tentu membutuhkan integritas tinggi. Gabi bercerita bagaimana pelanggan sering memberikan kepercayaan penuh, mulai dari mentransfer uang untuk belanja di minimarket hingga memintanya merapikan pakaian di dalam kamar pribadi. “Saya sempat was-was karena saya ini orang asing bagi mereka. Tapi mereka percaya. Saya yakin Tuhan yang kasih jalan ini semua,” katanya.
Bahkan, popularitas jasanya sampai ke Kabupaten Asmat. Seorang pelanggan di sana memintanya membelikan obat dan makanan untuk kekasihnya yang bertugas di Batalyon 810, Doyo. Jarak Waena ke Doyo yang cukup jauh ia tempuh demi upah Rp200 ribu dan kepuasan pelanggan.
Meski cuan mengalir deras, Gabi tetap menempatkan kuliah sebagai prioritas. Ia sering bekerja hingga pukul 12 malam jika jadwal kuliah di pagi dan siang hari sedang padat. Kini, ia tampil lebih profesional dengan membawa perlengkapan pembersih sendiri agar pelanggan terima beres.
Kesuksesan Gabi mulai dilirik rekan-rekan kampusnya yang ingin bergabung. Namun, untuk saat ini, ia memilih bekerja sendiri demi menjaga kualitas. Ia tak ingin kepercayaan yang sudah dibangun susah payah runtuh karena kerja orang lain yang tidak maksimal. Dari hasil menjemput rezeki di atas motor matik seharga Rp 8 juta pemberian ibunya, Gabi kini bisa mandiri. Ia mampu membayar uang kos Rp1 juta per bulan dan mengirimkan bantuan untuk ibunya di Kaimana.
Bekerja masuk ke ruang privat orang lain tentu membutuhkan integritas tinggi. Gabi bercerita bagaimana pelanggan sering memberikan kepercayaan penuh, mulai dari mentransfer uang untuk belanja di minimarket hingga memintanya merapikan pakaian di dalam kamar pribadi. “Saya sempat was-was karena saya ini orang asing bagi mereka. Tapi mereka percaya. Saya yakin Tuhan yang kasih jalan ini semua,” katanya.
Bahkan, popularitas jasanya sampai ke Kabupaten Asmat. Seorang pelanggan di sana memintanya membelikan obat dan makanan untuk kekasihnya yang bertugas di Batalyon 810, Doyo. Jarak Waena ke Doyo yang cukup jauh ia tempuh demi upah Rp200 ribu dan kepuasan pelanggan.
Meski cuan mengalir deras, Gabi tetap menempatkan kuliah sebagai prioritas. Ia sering bekerja hingga pukul 12 malam jika jadwal kuliah di pagi dan siang hari sedang padat. Kini, ia tampil lebih profesional dengan membawa perlengkapan pembersih sendiri agar pelanggan terima beres.
Kesuksesan Gabi mulai dilirik rekan-rekan kampusnya yang ingin bergabung. Namun, untuk saat ini, ia memilih bekerja sendiri demi menjaga kualitas. Ia tak ingin kepercayaan yang sudah dibangun susah payah runtuh karena kerja orang lain yang tidak maksimal. Dari hasil menjemput rezeki di atas motor matik seharga Rp 8 juta pemberian ibunya, Gabi kini bisa mandiri. Ia mampu membayar uang kos Rp1 juta per bulan dan mengirimkan bantuan untuk ibunya di Kaimana.