Namun ada satu hal yang hingga kini terus terngiang di ingatan Nurul sebuah pesan sederhana, namun terasa berbeda. “Dia titip pesan jaga anak-anak dengan baik, kasih makan mereka dengan baik. Selama ini dia tidak pernah pesan begitu,” katanya sembari menahan air mata.
Empat hari pertama berlalu tanpa kecemasan berarti. Nurul masih berpikir positif, seperti biasanya. Namun memasuki hari keenam, kegelisahan mulai datang. Agus tak pulang, sementara nelayan lain yang berangkat di waktu hampir bersamaan sudah kembali ke rumah masing-masing.
Nurul mulai mencari informasi. Ia mendatangi rekan-rekan nelayan di PPI Hamadi, juga menghubungi keluarga Sa’di yang kebetulan tinggal di kawasan yang sama. “Teman-temannya sudah balik semua. Suamiku belum. Saya mulai cemas,” katanya.
Akhirnya, keluarga melaporkan hilangnya Agus dan Sa’di ke Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Jayapura agar dilakukan upaya pencarian. Tak hanya itu, Nurul juga berusaha mencari petunjuk dengan cara lain. Ia menghubungi orang-orang yang dianggap “pintar” di kampung halamannya di Makassar, Sulawesi Selatan. “Kata orang pintar, suamiku dengan temannya terdampar di sebuah pulau. Katanya masih hidup,” ucapnya.
Agus dan Nurul menikah pada 2017 dan telah dikaruniai tiga orang anak. Sejak awal pernikahan, hasil laut menjadi satu-satunya sumber penghidupan keluarga mereka. “Saya sangat khawatir bagaimana masa depan anak-anak kalau suamiku terjadi apa-apa,” ujarnya sambil menangis deru.
Hal terberat bagi Nurul saat ini adalah menguatkan anak-anaknya, terutama anak sulung yang sudah duduk di bangku sekolah dasar. “Hampir setiap hari mereka tanya, papa ke mana. Saya cuma bisa bilang, papa masih di laut,” tutur Janati.
Namun di balik kesedihan, Nurul mengaku masih menyimpan keyakinan bahwa suaminya akan kembali. “Kami hanya pasrah kepada Allah SWT. Semoga suami saya pulang dalam keadaan selamat,” ujarnya penuh harap.