Mereka memukul batang sagu dengan ritme yang teratur. Di sampingnya, para mama-mama dengan cekatan memeras hasil tokokan untuk mendapatkan pati sagu. Proses itu dilakukan dengan penuh ketelatenan, seolah setiap gerakan memiliki nilai yang tak ternilai. Puluhan pasang mata turis tertuju pada pemandangan itu. Mereka terdiam, mengamati, mencoba memahami bagaimana tradisi itu masih hidup di tengah dunia yang semakin modern.
Tak lama kemudian, mereka diajak melihat berbagai kuliner dan kerajinan lokal. Aroma sagu bakar menggoda selera. Beberapa turis tampak tertarik, bahkan mencoba membeli. Meski ada yang kesulitan karena tidak memiliki uang rupiah, senyum mereka tetap mengembang pengalaman itu jauh lebih berharga dari sekadar transaksi.
Keramaian semakin terasa. Warga lokal mulai berdatangan, memenuhi area dermaga. Anak-anak berlarian, orang dewasa saling bercengkerama, semua menyatu dalam suasana yang hangat. Tak lama isosolopun dimulai. Tarian itu berbeda. Lebih riang, lebih bebas, penuh ekspresi kebahagiaan. Para penari bergerak di atas perahu, menggambarkan kebersamaan, rasa syukur, dan penghormatan kepada leluhur. Kamera-kamera kembali terangkat. Tak ada yang ingin melewatkan momen itu.
Di antara keramaian, terdengar bisikan-bisikan kecil dari para turis. Mereka saling berbagi kekaguman. Bagi mereka, Kampung Yobeh bukan sekadar tempat, tetapi pengalaman yang menyentuh hati.
Salah satu turis, Thom dari Texas, berdiri sambil tersenyum. Ia menggenggam sebuah oleh-oleh sederhana yang sempat ia beli. Baginya, kunjungan itu adalah yang pertama dan mungkin tak akan pernah ia lupakan. “Saya dan istri saya begitu menikmati setiap detik yang kami habiskan di kampung Yobeh, budaya yang ditampilkan begitu indah dan kami sangat bahagia,” katanya dengan penuh semangat.
Mereka memukul batang sagu dengan ritme yang teratur. Di sampingnya, para mama-mama dengan cekatan memeras hasil tokokan untuk mendapatkan pati sagu. Proses itu dilakukan dengan penuh ketelatenan, seolah setiap gerakan memiliki nilai yang tak ternilai. Puluhan pasang mata turis tertuju pada pemandangan itu. Mereka terdiam, mengamati, mencoba memahami bagaimana tradisi itu masih hidup di tengah dunia yang semakin modern.
Tak lama kemudian, mereka diajak melihat berbagai kuliner dan kerajinan lokal. Aroma sagu bakar menggoda selera. Beberapa turis tampak tertarik, bahkan mencoba membeli. Meski ada yang kesulitan karena tidak memiliki uang rupiah, senyum mereka tetap mengembang pengalaman itu jauh lebih berharga dari sekadar transaksi.
Keramaian semakin terasa. Warga lokal mulai berdatangan, memenuhi area dermaga. Anak-anak berlarian, orang dewasa saling bercengkerama, semua menyatu dalam suasana yang hangat. Tak lama isosolopun dimulai. Tarian itu berbeda. Lebih riang, lebih bebas, penuh ekspresi kebahagiaan. Para penari bergerak di atas perahu, menggambarkan kebersamaan, rasa syukur, dan penghormatan kepada leluhur. Kamera-kamera kembali terangkat. Tak ada yang ingin melewatkan momen itu.
Di antara keramaian, terdengar bisikan-bisikan kecil dari para turis. Mereka saling berbagi kekaguman. Bagi mereka, Kampung Yobeh bukan sekadar tempat, tetapi pengalaman yang menyentuh hati.
Salah satu turis, Thom dari Texas, berdiri sambil tersenyum. Ia menggenggam sebuah oleh-oleh sederhana yang sempat ia beli. Baginya, kunjungan itu adalah yang pertama dan mungkin tak akan pernah ia lupakan. “Saya dan istri saya begitu menikmati setiap detik yang kami habiskan di kampung Yobeh, budaya yang ditampilkan begitu indah dan kami sangat bahagia,” katanya dengan penuh semangat.