Anggota Komisi IV DPR Papua, Frangklin Wahey menekankan pentingnya melibatkan pemuda kampung dalam menjaga kebersihan kali, bukan hanya saat bencana terjadi. Ia bahkan mengingatkan, pada tahun 2019, penyumbatan di Kali Jaifuri mencapai 17 titik. Tahun 2023 sebanyak 13 titik. Kini memang berkurang hanya tiga titik, tetapi ancaman tetap ada, terutama di lokasi pendulangan emas.
“Ini kalau dilihat manusia yang merusak dan kita juga yang menerima dampaknya,” sesalnya. Ditempat yang sama, Bupati Yunus Wonda tak menampik banyaknya material yang menyumbat aliran kali menjadi penyebab utama meluapnya air. Bahkan, aktivitas pendulangan emas disebut turut memperparah kondisi karena adanya penimbunan dan bangunan di bantaran kali.
Iapun meminta masyarakat yang melakukan aktivitas di sekitar muara untuk segera membongkar bangunan yang menghambat aliran air. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak melarang masyarakat adat untuk bekerja namun semua harus dilakukan dengan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Dan di balik kerja keras ini, tersimpan harapan sederhana agar air danau bisa kembali surut, dan kehidupan masyarakat di sekitarnya perlahan kembali normal. Karena bagi mereka, ini bukan sekadar membersihkan kali. Ini adalah upaya menjaga rumah, menjaga kehidupan, dan menjaga masa depan.(*)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Anggota Komisi IV DPR Papua, Frangklin Wahey menekankan pentingnya melibatkan pemuda kampung dalam menjaga kebersihan kali, bukan hanya saat bencana terjadi. Ia bahkan mengingatkan, pada tahun 2019, penyumbatan di Kali Jaifuri mencapai 17 titik. Tahun 2023 sebanyak 13 titik. Kini memang berkurang hanya tiga titik, tetapi ancaman tetap ada, terutama di lokasi pendulangan emas.
“Ini kalau dilihat manusia yang merusak dan kita juga yang menerima dampaknya,” sesalnya. Ditempat yang sama, Bupati Yunus Wonda tak menampik banyaknya material yang menyumbat aliran kali menjadi penyebab utama meluapnya air. Bahkan, aktivitas pendulangan emas disebut turut memperparah kondisi karena adanya penimbunan dan bangunan di bantaran kali.
Iapun meminta masyarakat yang melakukan aktivitas di sekitar muara untuk segera membongkar bangunan yang menghambat aliran air. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak melarang masyarakat adat untuk bekerja namun semua harus dilakukan dengan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Dan di balik kerja keras ini, tersimpan harapan sederhana agar air danau bisa kembali surut, dan kehidupan masyarakat di sekitarnya perlahan kembali normal. Karena bagi mereka, ini bukan sekadar membersihkan kali. Ini adalah upaya menjaga rumah, menjaga kehidupan, dan menjaga masa depan.(*)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q