Marijo mengatakan, LVRI Papua pernah menerima dana hibah pemerintah pada 2019 hingga 2022. Namun, sejak 2023 hingga sekarang, dana hibah tersebut tidak lagi diterima. “Dari 2019 sampai 2022 kami mendapat dana hibah. Setelah 2023 sampai sekarang sudah tidak ada,” ujarnya.
Ketiadaan dana hibah membuat sejumlah kegiatan organisasi harus dikurangi. Untuk memenuhi kebutuhan operasional, LVRI Papua mengandalkan iuran anggota dan pemasukan dari penyewaan sebagian halaman kantor kepada pedagang kaki lima.
Pemasukan tersebut digunakan untuk kebutuhan dasar organisasi, seperti membayar listrik dan biaya perjalanan. “Kalau tidak ada anggaran, organisasi kami berjalan tertatih-tatih,” katanya.
Kondisi itu juga membuat beberapa kegiatan yang sebelumnya rutin dilakukan kini tidak lagi berjalan. Pertemuan para veteran lebih banyak dilakukan sekitar sebulan sekali untuk menjaga silaturahmi.
Meski demikian, Marijo mengakui pemerintah masih memberikan perhatian dalam bentuk bantuan tertentu. Pada hari-hari besar, misalnya, para veteran mendapat bantuan sembako. “Bantuan dari gubernur masih ada, meskipun belum sesuai dengan yang kami harapkan,” ujarnya.
Marijo berharap pemerintah dapat kembali memberikan dana hibah bagi organisasi veteran di Papua. Menurutnya, dukungan tersebut akan sangat berarti untuk menjaga keberlangsungan kegiatan organisasi.
“Berapa pun jumlahnya itu sangat berarti. Kami berharap ke depan ada perhatian khusus bagi para veteran,” katanya.
Marijo berharap momentum Hari Veteran Nasional dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan pemeriksaan kesehatan bagi para veteran. “Seharusnya pada momentum seperti ini kami bisa mengadakan pemeriksaan kesehatan kepada para veteran,” ujarnya.
Menurutnya, LVRI memiliki dua momentum penting setiap tahun. Pada 2 Januari diperingati sebagai Hari Legiun Veteran Republik Indonesia, sedangkan 10 Agustus diperingati sebagai Hari Veteran Nasional.