Ia menjelaskan, pembelajaran perhotelan di SNK Pariwisata Papua tidak berhenti di ruang kelas. Siswa dibekali keterampilan melalui ruang praktik simulasi sebelum terjun ke dunia industri. EdOTEL Yotefa View juga menjadi salah satu tempat latihan siswa. Setelah mendapatkan dasar keterampilan di sekolah, mereka kemudian menjalani praktik di industri.
“Program kelas industri menjadi salah satu keunggulan jurusan perhotelan. Sekolah bekerja sama dengan industri perhotelan di Jayapura untuk menyusun kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja,” ujarnya.
Kata Ana, mata pelajaran umum dan teori diselesaikan di sekolah. Setelah itu, siswa menjalani praktik atau magang di industri selama tiga semester atau sekitar 1,5 tahun hingga menyelesaikan pendidikan. Pola tersebut membuat siswa mengenal pekerjaan secara langsung sebelum benar-benar menjadi lulusan.
“Pengalaman PKL bahkan dapat membuka peluang kerja lebih awal. Sejumlah siswa mulai diminati pihak hotel ketika menjalani praktik. Ada pula siswa yang setelah menyelesaikan PKL diminta kembali membantu hotel ketika masa liburan,” ujarnya.
“Ketika PKL sudah diminati dan ditandai sehingga ketika mereka sudah selesai, bahkan saat liburan mereka sudah diminta untuk kembali membantu di hotel. Itu yang menjadi salah satu motivasi mereka memilih jurusan perhotelan,” sambung Ana.
Ia mengatakan, sejumlah hotel berbintang tiga dan empat di Kota Jayapura telah menjalin nota kesepahaman dengan sekolah. Kerja sama serupa juga dikembangkan untuk program keahlian lainnya.
Ana mengatakan kondisi industri bersifat dinamis. Situasi hotel saat ini belum tentu sama ketika siswa menyelesaikan pendidikan dan memasuki dunia kerja beberapa tahun mendatang.
“Lesunya hotel dinamis. Mungkin tahun ini hotel lesu, tetapi tiga tahun setelah mereka tamat ada perubahan. Jadi tidak ada pengaruh yang signifikan antara lesunya bidang perhotelan dengan minat jurusan perhotelan di sekolah,” katanya.
Dikatakan, praktik di industri menjadi bagian penting pendidikan vokasi. Namun, kegiatan tersebut sebelumnya membutuhkan kontribusi dari orang tua siswa. Pada 2026, biaya PKL siswa SNK Pariwisata Papua ditanggung Pemerintah Provinsi Papua. Peserta didik juga mendapat bantuan seragam umum, olahraga dan batik.
“Dukungan tersebut membuat siswa dapat menjalani praktik tanpa tambahan beban biaya bagi keluarga,” katanya.