KNPI Tak Lagi Miliki Energi

Thomas menyoroti kebiasaan yang menurutnya berulang di setiap pemilihan ketua. Gagasan hanya berhenti pada slogan dan retorika, sementara energi tersedot untuk membangun kekuasaan. Setelah kepemimpinan direbut, tidak ada tindak lanjut yang berarti.

“Ukuran seorang pemimpin bukan karena ia memenangkan pertarungan merebut kekuasaan, tetapi bagaimana ia menggunakan kekuasaan itu demi kebaikan bersama, (bonum commune) demi kemajuan organisasi dan pemuda. Itu barometer utama keberhasilan kepemimpinan,” tegasnya. Ia menyebut orientasi yang hanya pada kepentingan instan, seperti pesta dan foya-foya, sebagai gejala hedonisme dan materialisme.

Orientasi seperti ini membuat organisasi kepemudaan rentan terseret ke politik praktis yang dapat merusak tatanan organisasi. Padahal pemuda semestinya menjadi pilar yang kuat dan netral, sekaligus pemecah masalah (problem solver) di tengah berbagai persoalan Papua. “Mereka tidak memikirkan kepentingan yang lebih manusiawi dan kebaikan bersama, itu yang sya lihat dari semangat KNPI saat ini,” katanya.

Baca Juga :  167 Tersangka dan 97,35 Kg Ganja Disita Aparat

Ditanya soal isu yang semestinya disuarakan pemuda hari ini, Thomas menyebut peran sebagai pengawal pelaksanaan otonomi khusus (otsus). Pemuda, harus menjadi corong bagi persoalan ketidakadilan dan pelanggaran hak asasi manusia di Papua, yang kini menjadi pusat kontroversi dan perdebatan di berbagai kalangan.

Ia mendorong KNPI Papua menggagas diskusi dan seminar, serta turun langsung ke kampung-kampung untuk melihat kondisi masyarakat. Hasilnya disusun dalam laporan yang argumentatif, sistematis, dan objektif sebagai usulan kepada pemerintah. “Intinya adalah rekonsolidasi organisasi dan menjalankan visi-misi itu. Itu yang paling penting,” ujarnya.

Thomas menyampaikan tidak ada larangan pemuda terjun ke politik praktis, tetapi mengingatkan agar itu dilakukan secara pribadi. “Jangan mengorbankan atau mengatasnamakan organisasi pemuda atau KNPI,” sarannya.

Baca Juga :  Untuk Kerangka Tim sudah Mulai Terlihat

Thomas menyoroti kebiasaan yang menurutnya berulang di setiap pemilihan ketua. Gagasan hanya berhenti pada slogan dan retorika, sementara energi tersedot untuk membangun kekuasaan. Setelah kepemimpinan direbut, tidak ada tindak lanjut yang berarti.

“Ukuran seorang pemimpin bukan karena ia memenangkan pertarungan merebut kekuasaan, tetapi bagaimana ia menggunakan kekuasaan itu demi kebaikan bersama, (bonum commune) demi kemajuan organisasi dan pemuda. Itu barometer utama keberhasilan kepemimpinan,” tegasnya. Ia menyebut orientasi yang hanya pada kepentingan instan, seperti pesta dan foya-foya, sebagai gejala hedonisme dan materialisme.

Orientasi seperti ini membuat organisasi kepemudaan rentan terseret ke politik praktis yang dapat merusak tatanan organisasi. Padahal pemuda semestinya menjadi pilar yang kuat dan netral, sekaligus pemecah masalah (problem solver) di tengah berbagai persoalan Papua. “Mereka tidak memikirkan kepentingan yang lebih manusiawi dan kebaikan bersama, itu yang sya lihat dari semangat KNPI saat ini,” katanya.

Baca Juga :  Situasi di Dogiyai Berangsur Kondusif

Ditanya soal isu yang semestinya disuarakan pemuda hari ini, Thomas menyebut peran sebagai pengawal pelaksanaan otonomi khusus (otsus). Pemuda, harus menjadi corong bagi persoalan ketidakadilan dan pelanggaran hak asasi manusia di Papua, yang kini menjadi pusat kontroversi dan perdebatan di berbagai kalangan.

Ia mendorong KNPI Papua menggagas diskusi dan seminar, serta turun langsung ke kampung-kampung untuk melihat kondisi masyarakat. Hasilnya disusun dalam laporan yang argumentatif, sistematis, dan objektif sebagai usulan kepada pemerintah. “Intinya adalah rekonsolidasi organisasi dan menjalankan visi-misi itu. Itu yang paling penting,” ujarnya.

Thomas menyampaikan tidak ada larangan pemuda terjun ke politik praktis, tetapi mengingatkan agar itu dilakukan secara pribadi. “Jangan mengorbankan atau mengatasnamakan organisasi pemuda atau KNPI,” sarannya.

Baca Juga :  Target Rp1 Triliun Tak Tercapai, Terkendala Infrastruktur dan Kepastian Lahan

Berita Terbaru

Artikel Lainnya