Akan tetapi proses Pemilihan kepala daerah (Pilkada) Papua telah dicederai oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab, dengan ditemukan banyaknya kecurangan-kecurangan terjadi dalam pemilu.
Karena itu ia menilai demokrasi di Papua saat ini mengarah ke frozen demokrasi atau demokrasi yang beku. Hal ini terjadi karena adanya kecurangan yang terjadi dalam pemilu. Selain itu, ditemukan juga adanya kecurangan Elektoral Fraud. Kondisi ini jelasnya lebih mengarah kepada tindakan ilegal yang mengarah kepada mempengaruhi hasil Pemilukada dalam prosesnya.
Tindakan ini menurutnya dapat menyebabkan banyak hal diantaranya menyebabkan manipulasi suara, pengelembungan suara, intimidasi terhadap pemilih, pemalsuan dokumen dengan tujuan untuk memenangkan kandidat tertentu dengan cara tidak sah.
“Jadi saya lihat wajah demokrasi di Papua itu menjadi sedikit mengarah kepada pembekuan. Salah satu indikatornya adalah kecurangan Pemilu dan masih banyak lainnya, tetapi satu indikator ini yang mencoreng wajah demokrasi di Papua,” sebutnya.
Namun sebelumnya Renida menjelaskan bahwa Pilkada langsung adalah jawaban dari tuntunan aspirasi masyarakat. Selain itu Pilkada merupakan sarana pembelajaran komunikasi bagi masyarakat yang berpartisipasi dalam Pemilu.
Lebih dari itu ia juga menegaskan PSU menjadi salah satu mekanisme penting untuk memastikan bahwa setiap proses pemilu berlangsung jujur, adil, dan transparan. PSU bukanlah tanda kegagalan demokrasi, melainkan bukti komitmen bangsa ini untuk menjaga integritas pemilihan umum. Dalam konteks ini, sikap masyarakat dalam menerima hasil PSU menjadi cermin kedewasaan berpolitik yang patut diapresiasi dan terus diperkuat. (jim/ade)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOSÂ https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Akan tetapi proses Pemilihan kepala daerah (Pilkada) Papua telah dicederai oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab, dengan ditemukan banyaknya kecurangan-kecurangan terjadi dalam pemilu.
Karena itu ia menilai demokrasi di Papua saat ini mengarah ke frozen demokrasi atau demokrasi yang beku. Hal ini terjadi karena adanya kecurangan yang terjadi dalam pemilu. Selain itu, ditemukan juga adanya kecurangan Elektoral Fraud. Kondisi ini jelasnya lebih mengarah kepada tindakan ilegal yang mengarah kepada mempengaruhi hasil Pemilukada dalam prosesnya.
Tindakan ini menurutnya dapat menyebabkan banyak hal diantaranya menyebabkan manipulasi suara, pengelembungan suara, intimidasi terhadap pemilih, pemalsuan dokumen dengan tujuan untuk memenangkan kandidat tertentu dengan cara tidak sah.
“Jadi saya lihat wajah demokrasi di Papua itu menjadi sedikit mengarah kepada pembekuan. Salah satu indikatornya adalah kecurangan Pemilu dan masih banyak lainnya, tetapi satu indikator ini yang mencoreng wajah demokrasi di Papua,” sebutnya.
Namun sebelumnya Renida menjelaskan bahwa Pilkada langsung adalah jawaban dari tuntunan aspirasi masyarakat. Selain itu Pilkada merupakan sarana pembelajaran komunikasi bagi masyarakat yang berpartisipasi dalam Pemilu.
Lebih dari itu ia juga menegaskan PSU menjadi salah satu mekanisme penting untuk memastikan bahwa setiap proses pemilu berlangsung jujur, adil, dan transparan. PSU bukanlah tanda kegagalan demokrasi, melainkan bukti komitmen bangsa ini untuk menjaga integritas pemilihan umum. Dalam konteks ini, sikap masyarakat dalam menerima hasil PSU menjadi cermin kedewasaan berpolitik yang patut diapresiasi dan terus diperkuat. (jim/ade)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOSÂ https://www.myedisi.com/cenderawasihpos