JAYAPURA — Pemerintah Kota Jayapura terus memantau perkembangan harga kebutuhan pokok masyarakat menyusul hasil rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jayapura yang mencatat inflasi tahunan (year on year/yoy) pada Agustus 2026 sebesar 2,75 persen.
Angka tersebut menempatkan Kota Jayapura pada urutan ke-7 dengan inflasi terendah dari 64 kota di Indonesia. Sementara itu, Provinsi Papua berada pada urutan ke-8 dengan inflasi terendah dari 38 provinsi di Indonesia.
Asisten II Setda Kota Jayapura, Abdul Majid, mengatakan capaian tersebut menjadi gambaran perkembangan harga di Kota Jayapura, namun pemerintah tetap melakukan pemantauan terhadap komoditas yang berpotensi memengaruhi inflasi.
“Pemerintah terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan harga komoditas, terutama kebutuhan pokok masyarakat,” kata Abdul Majid.
Berdasarkan rilis BPS, sejumlah komoditas menjadi penyumbang inflasi tahunan terbesar di Kota Jayapura. Komoditas tersebut yakni emas perhiasan, angkutan udara, ikan tuna, bensin dan ikan cakalang.
Sementara komoditas yang memberikan andil terhadap deflasi tahunan terdalam adalah tomat, bawang merah, cabai rawit, ikan kembung dan sirih. Untuk inflasi bulanan (month to month/mtm), Kota Jayapura pada Agustus 2026 tercatat -0,89 persen. Angka tersebut menempatkan Kota Jayapura pada urutan pertama dengan inflasi mtm terendah di tingkat kota.
Komoditas yang menjadi penyumbang inflasi mtm antara lain sekolah menengah atas, buah pinang, ikan tuna, angkutan laut dan buncis.
Sedangkan komoditas yang menjadi penyumbang deflasi mtm yakni angkutan udara, tomat, bawang merah, bawang putih dan daging ayam ras.
Abdul Majid juga menyampaikan hasil pemantauan sementara perkembangan harga komoditas pada September 2026. Dari 23 komoditas mingguan yang dipantau, sebanyak 15 komoditas mengalami kenaikan harga, empat komoditas mengalami penurunan dan empat komoditas lainnya relatif stabil.