Fokus Evakuasi Korban dan Kejar Pelaku

Ia menambahkan bahwa kondisi medan yang berat menjadi tantangan tersendiri dalam proses penanganan di lapangan, sehingga seluruh personel diminta tetap mengedepankan aspek keselamatan dalam pelaksanaan tugas.

Sementara itu, Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Kombes Pol. Adarma Sinaga, mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pendulangan maupun penambangan ilegal di wilayah rawan konflik tersebut.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas pendulangan atau penambangan ilegal di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi karena sangat berisiko terhadap keselamatan,” kata Kombes Pol. Adarma Sinaga.

Menurutnya, kawasan tersebut merupakan wilayah hutan lindung yang tidak memiliki aktivitas resmi dan selama ini kerap menjadi lokasi aksi gangguan keamanan oleh kelompok kriminal bersenjata. Senada dengan itu, Kepala Satuan Tugas Humas Operasi Damai Cartenz 2026, Kombes Pol. Yusuf Sutejo, mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya dan tetap mengikuti perkembangan informasi resmi dari aparat.

Baca Juga :  Frits:  Aibon Kogeya Dibalik Peristiwa Beoga

“Kami meminta masyarakat tetap tenang, tidak mudah terprovokasi informasi yang belum terverifikasi, serta mendukung proses penanganan yang sedang dilakukan petugas di lapangan,” ujar Kombes Pol. Yusuf Sutejo.

Ia menegaskan bahwa aparat keamanan terus berupaya menjaga situasi tetap kondusif sekaligus memastikan proses evakuasi dan penyelamatan berjalan maksimal.

Menurut Yusuf, kejadian serupa telah berulang kali terjadi dan memiliki risiko ancaman keselamatan yang sangat tinggi. Selain berada di kawasan hutan lindung dan tidak terdapat aktivitas resmi, wilayah tersebut juga kerap menjadi lokasi aksi teror, penganiayaan, ancaman kekerasan, hingga pembunuhan oleh kelompok kriminal bersenjata sebagai upaya menunjukkan eksistensi keberadaan mereka di tingkat nasional maupun internasional. “Untuk kami mengajak masyarakat agar tidak berakfitas pada wilayah wilayah rawan, guna terhindar dari akai kekerasan kelompok kriminal,” pungkas Yusuf.

Baca Juga :  Para Pelaku Pembunuhan Sadis di Mimika Dibekuk

Sementara itu, Komando Operasi (Koops) TNI Habema juga terus berpacu dengan waktu untuk mengevakuasi delapan jenazah pendulang emas tradisional yang diserang oleh kelompok bersenjata TPNPB-OPM Kodap XVI Yahukimo pada Rabu, 20 Mei 2026. Proses evakuasi telah dimulai pada Kamis, 21 Mei 2026.  Hingga Jumat (22/5), proses penjemputan para korban dari wilayah pedalaman tersebut masih berjalan di tengah tantangan geografis dan situasi keamanan yang dinamis. Kepala Penerangan (Kapen) Koops TNI Habema, Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna, membenarkan bahwa operasi evakuasi tengah berlangsung intensif.

“On proses. Masih proses ya bro, nanti kalo uda ada update pasti saya info,” ujar Wirya melalui pesan singkatnya, Jumat (22/5/2026).

Ia menambahkan bahwa kondisi medan yang berat menjadi tantangan tersendiri dalam proses penanganan di lapangan, sehingga seluruh personel diminta tetap mengedepankan aspek keselamatan dalam pelaksanaan tugas.

Sementara itu, Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Kombes Pol. Adarma Sinaga, mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pendulangan maupun penambangan ilegal di wilayah rawan konflik tersebut.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas pendulangan atau penambangan ilegal di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi karena sangat berisiko terhadap keselamatan,” kata Kombes Pol. Adarma Sinaga.

Menurutnya, kawasan tersebut merupakan wilayah hutan lindung yang tidak memiliki aktivitas resmi dan selama ini kerap menjadi lokasi aksi gangguan keamanan oleh kelompok kriminal bersenjata. Senada dengan itu, Kepala Satuan Tugas Humas Operasi Damai Cartenz 2026, Kombes Pol. Yusuf Sutejo, mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya dan tetap mengikuti perkembangan informasi resmi dari aparat.

Baca Juga :  Empat Kabupaten Tetapkan Bupati-Wabup Terpilih

“Kami meminta masyarakat tetap tenang, tidak mudah terprovokasi informasi yang belum terverifikasi, serta mendukung proses penanganan yang sedang dilakukan petugas di lapangan,” ujar Kombes Pol. Yusuf Sutejo.

Ia menegaskan bahwa aparat keamanan terus berupaya menjaga situasi tetap kondusif sekaligus memastikan proses evakuasi dan penyelamatan berjalan maksimal.

Menurut Yusuf, kejadian serupa telah berulang kali terjadi dan memiliki risiko ancaman keselamatan yang sangat tinggi. Selain berada di kawasan hutan lindung dan tidak terdapat aktivitas resmi, wilayah tersebut juga kerap menjadi lokasi aksi teror, penganiayaan, ancaman kekerasan, hingga pembunuhan oleh kelompok kriminal bersenjata sebagai upaya menunjukkan eksistensi keberadaan mereka di tingkat nasional maupun internasional. “Untuk kami mengajak masyarakat agar tidak berakfitas pada wilayah wilayah rawan, guna terhindar dari akai kekerasan kelompok kriminal,” pungkas Yusuf.

Baca Juga :  Tak Mungkin Digunakan, Mobil Terbakar Bakal Dihapus dari Daftar Aset

Sementara itu, Komando Operasi (Koops) TNI Habema juga terus berpacu dengan waktu untuk mengevakuasi delapan jenazah pendulang emas tradisional yang diserang oleh kelompok bersenjata TPNPB-OPM Kodap XVI Yahukimo pada Rabu, 20 Mei 2026. Proses evakuasi telah dimulai pada Kamis, 21 Mei 2026.  Hingga Jumat (22/5), proses penjemputan para korban dari wilayah pedalaman tersebut masih berjalan di tengah tantangan geografis dan situasi keamanan yang dinamis. Kepala Penerangan (Kapen) Koops TNI Habema, Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna, membenarkan bahwa operasi evakuasi tengah berlangsung intensif.

“On proses. Masih proses ya bro, nanti kalo uda ada update pasti saya info,” ujar Wirya melalui pesan singkatnya, Jumat (22/5/2026).

Berita Terbaru

Artikel Lainnya