“Sebagai manusia kami tentu merasa cemas dan takut. Tetapi pengabdian kami adalah melayani masyarakat di daerah-daerah terpencil. Kami terbang dengan mempertaruhkan nyawa,” ujarnya.PAN juga mengingatkan operator penerbangan perintis agar tidak memaksakan penerbangan ke daerah rawan konflik tanpa kepastian keamanan. “Kami menyarankan operator memastikan kondisi keamanan terlebih dahulu sebelum mengutus pilot terbang ke daerah rawan,” katanya.
Berdasarkan pemetaan internal PAN, wilayah yang dianggap rawan berada di Papua Pegunungan dan Papua Tengah. Sebagai bagian dari masyarakat Papua, Buce turut menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa yang terjadi saat para pilot sedang menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat di Korowai.
“Kita semua tidak bisa menerima ketika masyarakat sipil, perawat, guru, dan pilot ditembak. Secara kemanusiaan itu tidak dibenarkan,” tegasnya.
Ia menambahkan, konflik bersenjata seharusnya tidak melibatkan warga sipil yang tidak bersenjata dan tidak terlibat dalam pertikaian. “Kami ini sipil, murni melayani masyarakat. Jangan ganggu kami. Jika ada konflik bersenjata, itu bukan ranah kami,” tegasnya.
Ia berharap insiden kekerasan terhadap penerbangan sipil di Papua segera diselesaikan secara menyeluruh dengan menyentuh akar persoalan, sehingga keselamatan awak dan pelayanan kepada masyarakat di wilayah terpencil dapat terjamin.
Kata Buce keselamatan penerbangan sipil adalah prinsip yang tidak boleh dilanggar dalam kondisi apa pun.
“Kami dengan tegas menolak tindakan penembakan tersebut. Tindakan tersebut adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dan tidak dapat dibenarkan oleh alasan apa pun,” tegas Buce.
Mereka juga mendesak aparat keamanan untuk menindak para pelaku secara tegas, profesional, dan terukur sesuai dengan hukum yang berlaku. Penegakan hukum yang adil dan transparan sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik serta menjamin keselamatan aktivitas penerbangan sipil di Papua.
“Sebagai manusia kami tentu merasa cemas dan takut. Tetapi pengabdian kami adalah melayani masyarakat di daerah-daerah terpencil. Kami terbang dengan mempertaruhkan nyawa,” ujarnya.PAN juga mengingatkan operator penerbangan perintis agar tidak memaksakan penerbangan ke daerah rawan konflik tanpa kepastian keamanan. “Kami menyarankan operator memastikan kondisi keamanan terlebih dahulu sebelum mengutus pilot terbang ke daerah rawan,” katanya.
Berdasarkan pemetaan internal PAN, wilayah yang dianggap rawan berada di Papua Pegunungan dan Papua Tengah. Sebagai bagian dari masyarakat Papua, Buce turut menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa yang terjadi saat para pilot sedang menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat di Korowai.
“Kita semua tidak bisa menerima ketika masyarakat sipil, perawat, guru, dan pilot ditembak. Secara kemanusiaan itu tidak dibenarkan,” tegasnya.
Ia menambahkan, konflik bersenjata seharusnya tidak melibatkan warga sipil yang tidak bersenjata dan tidak terlibat dalam pertikaian. “Kami ini sipil, murni melayani masyarakat. Jangan ganggu kami. Jika ada konflik bersenjata, itu bukan ranah kami,” tegasnya.
Ia berharap insiden kekerasan terhadap penerbangan sipil di Papua segera diselesaikan secara menyeluruh dengan menyentuh akar persoalan, sehingga keselamatan awak dan pelayanan kepada masyarakat di wilayah terpencil dapat terjamin.
Kata Buce keselamatan penerbangan sipil adalah prinsip yang tidak boleh dilanggar dalam kondisi apa pun.
“Kami dengan tegas menolak tindakan penembakan tersebut. Tindakan tersebut adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dan tidak dapat dibenarkan oleh alasan apa pun,” tegas Buce.
Mereka juga mendesak aparat keamanan untuk menindak para pelaku secara tegas, profesional, dan terukur sesuai dengan hukum yang berlaku. Penegakan hukum yang adil dan transparan sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik serta menjamin keselamatan aktivitas penerbangan sipil di Papua.