Sunday, February 15, 2026
33.7 C
Jayapura

KKB Kanibal dan Semut Merah Dalang Penembakan Pesawat di Korowai

“Setelah area kami amankan dan situasi dinyatakan kondusif, kami berharap warga yang mengungsi dapat kembali dan pelayanan kepada masyarakat bisa berjalan seperti biasa,” ujar Kombes Yusuf. Selain dampak sosial dan psikologis, insiden penembakan oleh KKB ini juga berimbas pada aktivitas penerbangan. Untuk sementara waktu, seluruh penerbangan dari Tanah Merah menuju Bandara Korowai Batu dihentikan.

“Untuk sementara waktu, penerbangan dari Tanah Merah menuju Bandara Korowai Batu dihentikan hingga situasi dinyatakan sepenuhnya aman,” jelas Kombes Yusuf.

Sementara insiden penembakan pesawat sipil yang menewaskan Kapten Pilot Egon Irawan dan Co Pilot Baskoro menambah daftar panjang kekerasan terhadap penerbangan sipil di Papua. Ketua Papuan Aviators Network (PAN), Capt. Buce Sub menyatakan peristiwa tersebut meninggalkan duka mendalam bagi komunitas pilot, khususnya di tanah Papua.

Baca Juga :  Empat Kabupaten di Papua Lakukan Pemilu Susulan

“Kejadian di Korowai menyisakan duka bagi kami. Sesama pilot, kami sangat berduka atas kehilangan kedua kapten yang ditembak,” kata Capt Buce saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Kamis (12/2).

Menurut Buce, kasus di Korowai bukanlah yang pertama. Ia menilai pola kekerasan terhadap pesawat dan awak sipil terus berulang, sehingga diperlukan evaluasi menyeluruh, bukan sekadar penanganan setelah kejadian.

“Yang perlu didorong bukan hanya penanganan pascakejadian, tetapi evaluasi menyeluruh terhadap pola yang terus berulang. Ini bukan kali pertama pesawat sipil ditembak dan pilot menjadi korban,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya transparansi dalam penegakan hukum yang adil serta pendekatan dialogis yang melibatkan masyarakat lokal di wilayah konflik.

Baca Juga :  Adanya Basis KKB, Penyaluran Dana Desa Jadi Perhatian

Menurutnya, penyelesaian akar persoalan harus ditempuh melalui jalur dialog agar kekerasan tidak terus berulang.

“Pengambil kebijakan harus mencari solusi yang tepat. Selama ada pembiaran, persoalan ini tidak akan selesai,” katanya.

Buce mengungkapkan, berdasarkan catatan dunia penerbangan, sejumlah insiden serius sebelumnya juga terjadi di Papua.

Mulai dari penyanderaan pilot, pembunuhan pilot asing di Mimika, penembakan dan pembakaran pesawat, hingga insiden terbaru di Korowai yang menewaskan dua pilot. Ia mengakui peristiwa di Kiwirok sebelumnya sudah menimbulkan kecemasan di kalangan pilot. Namun, kejadian di Korowai dinilai lebih mengejutkan karena wilayah tersebut selama ini dianggap relatif aman.

“Setelah area kami amankan dan situasi dinyatakan kondusif, kami berharap warga yang mengungsi dapat kembali dan pelayanan kepada masyarakat bisa berjalan seperti biasa,” ujar Kombes Yusuf. Selain dampak sosial dan psikologis, insiden penembakan oleh KKB ini juga berimbas pada aktivitas penerbangan. Untuk sementara waktu, seluruh penerbangan dari Tanah Merah menuju Bandara Korowai Batu dihentikan.

“Untuk sementara waktu, penerbangan dari Tanah Merah menuju Bandara Korowai Batu dihentikan hingga situasi dinyatakan sepenuhnya aman,” jelas Kombes Yusuf.

Sementara insiden penembakan pesawat sipil yang menewaskan Kapten Pilot Egon Irawan dan Co Pilot Baskoro menambah daftar panjang kekerasan terhadap penerbangan sipil di Papua. Ketua Papuan Aviators Network (PAN), Capt. Buce Sub menyatakan peristiwa tersebut meninggalkan duka mendalam bagi komunitas pilot, khususnya di tanah Papua.

Baca Juga :  Satgas Berikan Pelayanan Kesehatan Gratis Keliling bagi Warga Kampung Suru-Suru

“Kejadian di Korowai menyisakan duka bagi kami. Sesama pilot, kami sangat berduka atas kehilangan kedua kapten yang ditembak,” kata Capt Buce saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Kamis (12/2).

Menurut Buce, kasus di Korowai bukanlah yang pertama. Ia menilai pola kekerasan terhadap pesawat dan awak sipil terus berulang, sehingga diperlukan evaluasi menyeluruh, bukan sekadar penanganan setelah kejadian.

“Yang perlu didorong bukan hanya penanganan pascakejadian, tetapi evaluasi menyeluruh terhadap pola yang terus berulang. Ini bukan kali pertama pesawat sipil ditembak dan pilot menjadi korban,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya transparansi dalam penegakan hukum yang adil serta pendekatan dialogis yang melibatkan masyarakat lokal di wilayah konflik.

Baca Juga :  Besok, Mendagri Canangkan Pembagian 10 Juta Bendera Merah Putih

Menurutnya, penyelesaian akar persoalan harus ditempuh melalui jalur dialog agar kekerasan tidak terus berulang.

“Pengambil kebijakan harus mencari solusi yang tepat. Selama ada pembiaran, persoalan ini tidak akan selesai,” katanya.

Buce mengungkapkan, berdasarkan catatan dunia penerbangan, sejumlah insiden serius sebelumnya juga terjadi di Papua.

Mulai dari penyanderaan pilot, pembunuhan pilot asing di Mimika, penembakan dan pembakaran pesawat, hingga insiden terbaru di Korowai yang menewaskan dua pilot. Ia mengakui peristiwa di Kiwirok sebelumnya sudah menimbulkan kecemasan di kalangan pilot. Namun, kejadian di Korowai dinilai lebih mengejutkan karena wilayah tersebut selama ini dianggap relatif aman.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya