Ia juga mengajak seluruh umat di Kota Jayapura untuk menjadikan aksi doa ini sebagai agenda rutin yang akan dilaksanakan setiap, 7 bulan berjalan demi menghadirkan kedamaian di Tanah Papua. Berdasarkan informasi yang dihimpun, aksi pawai doa ini merupakan rangkaian kegiatan lanjutan pasca diadakannya Konser Doa di Gereja GIDI Pondok Sukacita Koya Koso pada, 31 Mei 2026 lalu.
Penggunaan simbol Salib Merah dalam pawai ini secara khusus merefleksikan penolakan terhadap perampasan tanah, hutan, dan hak adat oleh korporasi maupun negara. Secara spesifik, khotbah dan orasi dalam kegiatan ini banyak merujuk pada penolakan terhadap implementasi Proyek Strategis Nasional (PSN) di wilayah Merauke, Papua Selatan, sejalan dengan sikap resmi yang telah diambil oleh Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Dewan Gereja Papua. (jim/ade)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Ia juga mengajak seluruh umat di Kota Jayapura untuk menjadikan aksi doa ini sebagai agenda rutin yang akan dilaksanakan setiap, 7 bulan berjalan demi menghadirkan kedamaian di Tanah Papua. Berdasarkan informasi yang dihimpun, aksi pawai doa ini merupakan rangkaian kegiatan lanjutan pasca diadakannya Konser Doa di Gereja GIDI Pondok Sukacita Koya Koso pada, 31 Mei 2026 lalu.
Penggunaan simbol Salib Merah dalam pawai ini secara khusus merefleksikan penolakan terhadap perampasan tanah, hutan, dan hak adat oleh korporasi maupun negara. Secara spesifik, khotbah dan orasi dalam kegiatan ini banyak merujuk pada penolakan terhadap implementasi Proyek Strategis Nasional (PSN) di wilayah Merauke, Papua Selatan, sejalan dengan sikap resmi yang telah diambil oleh Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Dewan Gereja Papua. (jim/ade)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q