120 Hektar Lahan Dilepaskan Oleh Masyarakat Adat
MERAUKE – Pembangunan Markas Komando Daerah Militer (Makodam) XXIV/Mandala Trikora di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, dijadwalkan mulai berjalan pada Selasa (27/10). Pembangunan markas di atas lahan seluas kurang lebih 120 hektare itu ditargetkan sudah berdiri paling lambat Desember 2027.
Pembangunan Mako Kodam XXIV/MT yang berada di Kampung Urum, Distrik Semangga Merauke itu dapat dilakukan setelah lahan 120 ha tersebut dilakukan pelepasan secara adat berlangsung, Senin (26/10). Sebanyak 6 ekor babi jantan warna hitam dikorbankan secara adat yang dihadiri dan disaksikan langsung Bupati Merauke Yoseph Bladib Gebze dan salah satu anggota Majelis Rakyat Papua dari wilayah tersebut.
Pangdam XXIV/Mandala Trikora Mayjen TNI Frits Wilem Pelamonia menjelaskan, prosesi adat dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan TNI terhadap adat dan budaya masyarakat Papua sebelum dimulainya pembangunan markas komando. “Hari ini kita saksikan bersama prosesi adat. TNI sangat menghargai dan menjunjung tinggi adat Papua. Sebelum kita membangun Makodam ini, kita melaksanakan prosesi adat terlebih dahulu. Besok pembangunan sudah mulai beroperasi,” ujarnya.
Menurutnya, penghormatan terhadap adat menjadi bagian penting dalam membangun hubungan yang baik antara TNI dan masyarakat setempat. Dengan demikian, pembangunan fasilitas militer tersebut diharapkan berjalan seiring dengan penghargaan terhadap nilai-nilai adat yang hidup di tengah masyarakat. Pangdam Frits Pelamonia menjelaskan, lahan yang akan digunakan untuk pembangunan Makodam
120 Hektar Lahan Dilepaskan Oleh Masyarakat Adat
MERAUKE – Pembangunan Markas Komando Daerah Militer (Makodam) XXIV/Mandala Trikora di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, dijadwalkan mulai berjalan pada Selasa (27/10). Pembangunan markas di atas lahan seluas kurang lebih 120 hektare itu ditargetkan sudah berdiri paling lambat Desember 2027.
Pembangunan Mako Kodam XXIV/MT yang berada di Kampung Urum, Distrik Semangga Merauke itu dapat dilakukan setelah lahan 120 ha tersebut dilakukan pelepasan secara adat berlangsung, Senin (26/10). Sebanyak 6 ekor babi jantan warna hitam dikorbankan secara adat yang dihadiri dan disaksikan langsung Bupati Merauke Yoseph Bladib Gebze dan salah satu anggota Majelis Rakyat Papua dari wilayah tersebut.
Pangdam XXIV/Mandala Trikora Mayjen TNI Frits Wilem Pelamonia menjelaskan, prosesi adat dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan TNI terhadap adat dan budaya masyarakat Papua sebelum dimulainya pembangunan markas komando. “Hari ini kita saksikan bersama prosesi adat. TNI sangat menghargai dan menjunjung tinggi adat Papua. Sebelum kita membangun Makodam ini, kita melaksanakan prosesi adat terlebih dahulu. Besok pembangunan sudah mulai beroperasi,” ujarnya.
Menurutnya, penghormatan terhadap adat menjadi bagian penting dalam membangun hubungan yang baik antara TNI dan masyarakat setempat. Dengan demikian, pembangunan fasilitas militer tersebut diharapkan berjalan seiring dengan penghargaan terhadap nilai-nilai adat yang hidup di tengah masyarakat. Pangdam Frits Pelamonia menjelaskan, lahan yang akan digunakan untuk pembangunan Makodam