JAYAPURA — Beberapa hari terakhir jika melihat dari ketinggian khususnya di kawasan Skyline ke arah Muara Tami terlihat kabut putih menutupi sebagian wilayah tersebut. Jika disaksikan dari Jembatan Yotefa juga nampak jelas seperti kabut yang masif masuk ke wilayah Kota Jayapura. Tak sedikit yang menggunggah ke media sosial dengan mengaitkan dengan asap dari Kebakaran Hutan dan Lahan.
Terkait ini Balai Besar Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah V Jayapura menyampaikan bahwa fenomena kabut di Jayapura beberapa hari terakhir bukanlah disebabkan dari hembusan kabut asap dampak dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi dibeberapa kabupaten dan provinsi.
Fenomena udara yang menyelimuti kawasan Kota dan Kabupaten Jayapura belakangan ini dipastikan murni merupakan fenomena meteorologi alami dan sama sekali bukan kabut asap hasil kebakaran hutan maupun lahan. Kepastian tersebut disampaikan guna meredam keresahan masyarakat terkait isu pencemaran udara yang beredar di tengah warga.
Berdasarkan hasil analisis pemantauan sebaran titik panas atau hotspot yang dilakukan oleh BMKG pada kurun waktu tanggal sembilan hingga sepuluh Oktober dua ribu dua puluh enam, tidak ada satupun titik panas yang terdeteksi di wilayah Kota maupun Kabupaten Jayapura beserta daerah sekitarnya.
Hasil pemutakhiran data Peta Sebaran Titik Panas BMKG hingga tanggal sebelas Oktober dua ribu dua puluh enam juga mengonfirmasi kondisi nihil hotspot untuk seluruh wilayah Provinsi Papua. Sementara itu, pemantauan citra satelit Himawari-9 pada, 11 Oktober 2026, menunjukkan adanya sebaran kabut asap di beberapa wilayah Pulau Papua, mencakup kawasan Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Selatan, serta sebagian wilayah Papua Pegunungan.
Meski demikian, data satelit memperlihatkan bahwa Kota dan Kabupaten Jayapura secara geografis berada di luar koridor terdampak dan aman dari sebaran partikel asap tersebut. Pihak BMKG Wilayah V Jayapura menjelaskan bahwa fenomena kabut biasa terbentuk dari proses pembentukan alami akibat kondensasi uap air ketika udara mendekati kondisi jenuh atau memiliki tingkat kelembapan yang sangat tinggi.
JAYAPURA — Beberapa hari terakhir jika melihat dari ketinggian khususnya di kawasan Skyline ke arah Muara Tami terlihat kabut putih menutupi sebagian wilayah tersebut. Jika disaksikan dari Jembatan Yotefa juga nampak jelas seperti kabut yang masif masuk ke wilayah Kota Jayapura. Tak sedikit yang menggunggah ke media sosial dengan mengaitkan dengan asap dari Kebakaran Hutan dan Lahan.
Terkait ini Balai Besar Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah V Jayapura menyampaikan bahwa fenomena kabut di Jayapura beberapa hari terakhir bukanlah disebabkan dari hembusan kabut asap dampak dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi dibeberapa kabupaten dan provinsi.
Fenomena udara yang menyelimuti kawasan Kota dan Kabupaten Jayapura belakangan ini dipastikan murni merupakan fenomena meteorologi alami dan sama sekali bukan kabut asap hasil kebakaran hutan maupun lahan. Kepastian tersebut disampaikan guna meredam keresahan masyarakat terkait isu pencemaran udara yang beredar di tengah warga.
Berdasarkan hasil analisis pemantauan sebaran titik panas atau hotspot yang dilakukan oleh BMKG pada kurun waktu tanggal sembilan hingga sepuluh Oktober dua ribu dua puluh enam, tidak ada satupun titik panas yang terdeteksi di wilayah Kota maupun Kabupaten Jayapura beserta daerah sekitarnya.
Hasil pemutakhiran data Peta Sebaran Titik Panas BMKG hingga tanggal sebelas Oktober dua ribu dua puluh enam juga mengonfirmasi kondisi nihil hotspot untuk seluruh wilayah Provinsi Papua. Sementara itu, pemantauan citra satelit Himawari-9 pada, 11 Oktober 2026, menunjukkan adanya sebaran kabut asap di beberapa wilayah Pulau Papua, mencakup kawasan Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Selatan, serta sebagian wilayah Papua Pegunungan.
Meski demikian, data satelit memperlihatkan bahwa Kota dan Kabupaten Jayapura secara geografis berada di luar koridor terdampak dan aman dari sebaran partikel asap tersebut. Pihak BMKG Wilayah V Jayapura menjelaskan bahwa fenomena kabut biasa terbentuk dari proses pembentukan alami akibat kondensasi uap air ketika udara mendekati kondisi jenuh atau memiliki tingkat kelembapan yang sangat tinggi.