Konflik Wouma Berakhir Damai, Dua Kelompok Patah Panah

JAYAPURA–Konflik horizontal yang terjadi antara masyarakat Wouma–Kurima dan Lanny Jaya di Kabupaten Jayawijaya akhirnya berakhir damai setelah kedua belah pihak sepakat mengakhiri pertikaian melalui prosesi adat “Patah Panah” di Mapolres Jayawijaya, Sabtu (23/5). Prosesi adat tersebut menjadi simbol berakhirnya perang suku yang beberapa waktu terakhir menimbulkan korban jiwa, kerusakan, serta keresahan masyarakat di wilayah Papua Pegunungan.

Acara perdamaian dihadiri langsung Wakil Menteri Dalam Negeri RI Ribka Haluk, Gubernur Papua Pegunungan Jhon Tabo, Kapolda Papua Irjen Pol Patrige R. Renwarin, Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Febriel Buyung Sikumbang, para bupati, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat dari kedua kelompok yang bertikai.

Wakil Mentri Dalam Dr.Ribka Haluk, S.Sos, M.M menyatakan sejak awal pihaknya sudah mengikuti apa yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat, mewakili pemerintah pusat memberikan apresiasi kepada masyarakat dengan kerendahan hati dan berjiwa besar menerima semua situasi dan keadaan serta musibah bagi keluarga besar Provinsi Papua pegunugan.

Baca Juga :  Cuaca Buruk di Perairan Asmat, Tim Kemensos Sempat Hilang Kontak

“Saya sebagai perempuan adat turut menangis sekaligus bangga, sebab orang tua saya bisa menyelesaikan masalah ini dengan adat dan berjiwa besar bisa menerima semua ini,”ungkapnya di Wamena Sabtu (23/5) kemarin. Menurutnya, saat ini bisa diselesaikan konflik yang terjadi untuk perdamaian yang diinisiasikan secara adat dalam ritual patah panah, Ia juga berterima kasih kepada para bupati yang siang malam memfasilitasi masyarakat, apapun yang dilakukan baik materi dan moril.

JAYAPURA–Konflik horizontal yang terjadi antara masyarakat Wouma–Kurima dan Lanny Jaya di Kabupaten Jayawijaya akhirnya berakhir damai setelah kedua belah pihak sepakat mengakhiri pertikaian melalui prosesi adat “Patah Panah” di Mapolres Jayawijaya, Sabtu (23/5). Prosesi adat tersebut menjadi simbol berakhirnya perang suku yang beberapa waktu terakhir menimbulkan korban jiwa, kerusakan, serta keresahan masyarakat di wilayah Papua Pegunungan.

Acara perdamaian dihadiri langsung Wakil Menteri Dalam Negeri RI Ribka Haluk, Gubernur Papua Pegunungan Jhon Tabo, Kapolda Papua Irjen Pol Patrige R. Renwarin, Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Febriel Buyung Sikumbang, para bupati, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat dari kedua kelompok yang bertikai.

Wakil Mentri Dalam Dr.Ribka Haluk, S.Sos, M.M menyatakan sejak awal pihaknya sudah mengikuti apa yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat, mewakili pemerintah pusat memberikan apresiasi kepada masyarakat dengan kerendahan hati dan berjiwa besar menerima semua situasi dan keadaan serta musibah bagi keluarga besar Provinsi Papua pegunugan.

Baca Juga :  KPK Izinkan Berobat ke Singapura dengan Status Tahanan

“Saya sebagai perempuan adat turut menangis sekaligus bangga, sebab orang tua saya bisa menyelesaikan masalah ini dengan adat dan berjiwa besar bisa menerima semua ini,”ungkapnya di Wamena Sabtu (23/5) kemarin. Menurutnya, saat ini bisa diselesaikan konflik yang terjadi untuk perdamaian yang diinisiasikan secara adat dalam ritual patah panah, Ia juga berterima kasih kepada para bupati yang siang malam memfasilitasi masyarakat, apapun yang dilakukan baik materi dan moril.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya