“Kami pemerintah tak bisa membalas semua kebaikan yang dilakukan oleh keluarga kita, ritual patah panah hari ini adalah bagian terpenting untuk penyelesaian konflik sehingga perlu di sosialisasikan saya harapkan saat ini kita mulau melakukan pembangunan -pembangunan, kalau keamanan tak kondusif kita pemerintah juga tak bisa membangun,” jelas Ribka.
Kapolda Papua Irjen Pol Rudolf Patrige Renwarin, SH, M.Si menyatakan tujuan dari rirual ini untuk menyaksikan bagaimana perdamaian, sehingga apa yang diharapkan saat ini bisa terlaksana dengan baik, tetapi juga harus mengerti, memahami budaya dari kedua belah pihak yang melakukan perdamaian. “Saya selaku kepala Kepolisian untuk Papua, Papua Pegunungan dan Papua Selatan, sangat bertanggungjawab keamanan di 3 wilayah yang luas ini saya berterimakasih kepada kedua belah pihak karena sudah mau mendukung kami supaya ibukota Papua Pegunungan bisa kembali normal,” katanya.
Gubernur Papua pegunugan Dr. Jhon Tabo, SE, M.BA menegaskan konflik ini adalah konflik antara keluarga atau saudara sendiri, sehingga saat ini dilakukan satu tanda dalam ritual patah panah sebab ini juga akan dimasukkan dalam Perdasi dan perdasus yang telah disiapkan. “Dalam Perdasi dan Perdasus itu akan mengatur penyelesaian konflik artinya meskipun peradilan secara adat berjalan namun kalau tak mampu diselesaikan maka akan menuju ke hukum peradilan positif dan ritual ini satu sikap awal,”beber Tabo.
Konflik antara suku ini dari dulu terus ada, sebab pernyataan lepas panah yang dilakukan tidak seperti yang dilakukan saat ini dan hanya membuat pernyataan, sama seperti konflik ini pertama kali hanya membuat pernyataan , dan lepas panah hanya Assolokobal dan Kurima, sementara dengan lanny tak dilakukan. “Saya tegaskan penyelesaian konflik ini sudah diselesaikan secara adat jadi jangan ulangi lagi, saya juga tegaskan ke para Bupati persoalan begini tidak boleh lagi bayar dari pemerintah kepada masyarakat, Nenek Moyang tak pernah bayar pake uang, yang dipake hanya babi,” tutup Jhon Tabo
“Kami pemerintah tak bisa membalas semua kebaikan yang dilakukan oleh keluarga kita, ritual patah panah hari ini adalah bagian terpenting untuk penyelesaian konflik sehingga perlu di sosialisasikan saya harapkan saat ini kita mulau melakukan pembangunan -pembangunan, kalau keamanan tak kondusif kita pemerintah juga tak bisa membangun,” jelas Ribka.
Kapolda Papua Irjen Pol Rudolf Patrige Renwarin, SH, M.Si menyatakan tujuan dari rirual ini untuk menyaksikan bagaimana perdamaian, sehingga apa yang diharapkan saat ini bisa terlaksana dengan baik, tetapi juga harus mengerti, memahami budaya dari kedua belah pihak yang melakukan perdamaian. “Saya selaku kepala Kepolisian untuk Papua, Papua Pegunungan dan Papua Selatan, sangat bertanggungjawab keamanan di 3 wilayah yang luas ini saya berterimakasih kepada kedua belah pihak karena sudah mau mendukung kami supaya ibukota Papua Pegunungan bisa kembali normal,” katanya.
Gubernur Papua pegunugan Dr. Jhon Tabo, SE, M.BA menegaskan konflik ini adalah konflik antara keluarga atau saudara sendiri, sehingga saat ini dilakukan satu tanda dalam ritual patah panah sebab ini juga akan dimasukkan dalam Perdasi dan perdasus yang telah disiapkan. “Dalam Perdasi dan Perdasus itu akan mengatur penyelesaian konflik artinya meskipun peradilan secara adat berjalan namun kalau tak mampu diselesaikan maka akan menuju ke hukum peradilan positif dan ritual ini satu sikap awal,”beber Tabo.
Konflik antara suku ini dari dulu terus ada, sebab pernyataan lepas panah yang dilakukan tidak seperti yang dilakukan saat ini dan hanya membuat pernyataan, sama seperti konflik ini pertama kali hanya membuat pernyataan , dan lepas panah hanya Assolokobal dan Kurima, sementara dengan lanny tak dilakukan. “Saya tegaskan penyelesaian konflik ini sudah diselesaikan secara adat jadi jangan ulangi lagi, saya juga tegaskan ke para Bupati persoalan begini tidak boleh lagi bayar dari pemerintah kepada masyarakat, Nenek Moyang tak pernah bayar pake uang, yang dipake hanya babi,” tutup Jhon Tabo