JAYAPURA– Di tengah proses penegakan hukum yang dilakukan terhadap para pelaku pebunuhan pilot, Capten Nicholas F Goselin oleh tim Satgas Damai Cartenz, suara damai datang dari Wesley Dale, putra misionaris Stanley Dale yang gugur dibunuh di Lembah Seng pada September 1968.
Dari rekaman suara selama 13,56 menit yang tersebar terdengar jelas jika Wesley nampak ikut berduka dan terpukul atas insiden pembunuhan pilot Goselin. Suaranya terdengar berat dan seperti menahan beban kesedihan. Ia lantas memilih merekam suara dan menyampaikan unage-unegnya. Ya Wesley menyebut bahwa ia adalah anak seorang missionaris.
Namun sayang, kerja-kerja iman yang dijalankan orang tuanya berujung tragis. Sang ayah justru tewas dibunuh oleh kelompok yang tak dikenali. Wesley mengenang masa kecilnya ketika orang tuanya mengabdikan hidup untuk masyarakat Yali di wilayah Heluk, Ninia. Ia menceritakan ayahnya datang ke Papua bukan untuk mencari kekayaan, melainkan membawa pelayanan, pendidikan, kesehatan, dan kabar keselamatan melalui Injil.
Stanley Dale bahkan mempelajari bahasa Yali agar dapat berkomunikasi langsung dengan masyarakat setempat, sementara ibunya membuka klinik kesehatan pertama di wilayah Heluk dan mengajarkan baca tulis kepada masyarakat. Setelah ayahnya dibunuh, Wesley mengaku tidak menyimpan kebencian.
“Saat mendengar ayah saya dibunuh, saya langsung mengampuni mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat,” tuturnya.
Beberapa tahun kemudian, ia justru kembali ke wilayah tersebut bersama keluarga misionaris lainnya untuk melanjutkan pelayanan. Bahkan, Wesley mengaku pernah membaptis sejumlah orang yang sebelumnya terlibat dalam pembunuhan ayahnya.
“Saya bisa melakukan itu karena kasih Tuhan ada di hati saya. Mereka memang pernah membunuh, tetapi kemudian mereka bertobat dan menjadi anak-anak Allah,” ujarnya.
Selama 43 tahun, sejak 1977 hingga 2020, Wesley mengabdikan hidupnya di Papua. Bersama masyarakat, ia membantu pembangunan pembangkit listrik tenaga mikrohidro, menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Lani, serta melanjutkan berbagai pelayanan pendidikan dan kesehatan yang telah dirintis para misionaris sebelumnya.
Peristiwa pembunuhan terhadap pilot Kapten Nicholas dalam insiden pembakaran pesawat AMA di Balinggama membangkitkan kembali kenangan pahit Wesley terhadap tragedi yang merenggut nyawa ayahnya hampir enam dekade lalu.
“Sangat menyedihkan. Dulu darah ayah saya tertumpah di wilayah Yali, sekarang kembali seorang pilot yang datang untuk menolong masyarakat Papua harus kehilangan nyawanya. Ini sesuatu yang seharusnya tidak perlu terjadi,” katanya.
Menurut Wesley, para misionaris, guru, tenaga kesehatan, hingga pilot datang ke pedalaman Papua dengan tujuan membantu masyarakat memperoleh pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kehidupan yang lebih baik. “Kami tidak datang membawa pulang kekayaan. Kami tidak mencari emas atau penghargaan. Kami datang karena mengasihi orang Papua,” ujarnya.
Ia mengaku sedih melihat sebagian generasi muda kini kembali terjerumus dalam kekerasan, padahal leluhur mereka pernah menerima pelayanan Injil dan mengalami perubahan hidup. “Dulu orang tua mereka dibebaskan dari kehidupan penuh kekerasan. Tetapi sekarang cucu-cucu mereka kembali memilih jalan kebencian dan pembunuhan,” katanya.
Dalam pesannya, Wesley mengajak seluruh tokoh gereja, pemimpin jemaat, dan tokoh adat untuk tidak berdiam diri menghadapi aksi kekerasan yang terus terjadi.
“Kalian mempunyai suara yang didengar masyarakat. Jangan diam, karena jika diam orang bisa menganggap kalian mendukung kekerasan. Gunakan pengaruh yang dimiliki untuk menyelamatkan kehidupan dan membimbing generasi muda menuju jalan damai,” ujarnya.
Ia berharap masyarakat Papua memilih jalan perdamaian dan meninggalkan kekerasan sebagai cara menyelesaikan persoalan. “Saya berdoa agar Tuhan memberkati Papua dengan damai-Nya. Biarlah pembunuhan demi pembunuhan berhenti, dan damai Tuhan memenuhi seluruh Tanah Papua,” tutupnya.
Sementara Satuan Tugas Operasi Damai Cartenz (ODC) terus memburu tujuh orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penembakan dan pembakaran pesawat AMA di Distrik Balinggama, Kabupaten Yahukimo, yang terjadi dua pekan lalu. Ketujuh tersangka kini telah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) dan aparat masih melakukan pemetaan untuk mengetahui keberadaan mereka.

Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz, Kombes Pol Yusuf Sutejo, mengatakan proses pengejaran masih berlangsung secara intensif. Menurutnya, identitas para pelaku beserta kelompok yang terlibat telah dikantongi penyidik.
“Hingga kini kami masih melakukan upaya pengejaran. Sebelumnya kami sudah menetapkan tujuh orang sebagai tersangka, kemudian menerbitkan DPO terhadap ketujuh orang tersebut. Itu merupakan hasil mitigasi yang kami lakukan dan sekarang kami fokus melakukan pengejaran,” ujarnya, Senin (13/7)
Meski demikian, aparat belum dapat memastikan lokasi persembunyian para tersangka.
“Belum diketahui apakah mereka masih berada di sekitar Yahukimo atau sudah berpindah. Karena itu masih terus kami petakan. Yang terpenting, kami sudah mengetahui siapa pelakunya, kelompoknya, dan tujuh orang yang terlibat sudah resmi ditetapkan sebagai tersangka serta diterbitkan DPO,” katanya.
Terkait jaminan keamanan penerbangan di wilayah pedalaman Yahukimo, Yusuf mengakui masih terdapat keterbatasan personel dan sarana pengamanan, khususnya pada lapangan terbang kecil seperti Balinggama.
“Kalau lapangan terbang seperti di Balinggama memang ada keterbatasan sarana, prasarana, dan personel. Namun untuk Bandara Dekai kondisinya aman karena berada di kawasan kota. Memang di Yahukimo terdapat banyak lapangan terbang kecil yang tersebar di wilayah pedalaman,” jelasnya.
Ia menegaskan, hingga kini belum ada rencana penambahan personel keamanan di Yahukimo karena kekuatan yang ada dinilai masih memadai. “Tidak perlu penambahan pasukan. Personel yang ada saat ini masih cukup. Tinggal bagaimana pola penyebarannya saja. Di Kota Dekai sendiri situasinya relatif aman, sementara kelompok bersenjata bergerak ke daerah-daerah pedalaman seperti Balinggama untuk mencari sasaran baru,” ujarnya.
Sementara itu, pesawat AMA yang dibakar pelaku hingga kini masih berada di lokasi kejadian. Aparat baru melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan belum ada aktivitas penerbangan yang kembali dilakukan di lapangan terbang tersebut. “Pesawatnya masih menjadi bangkai di lokasi. Sampai sekarang belum ada aktivitas penerbangan di sana,” katanya. (rel/ade)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q