KWI Soroti Luka Sosial Papua

Tolak Pendekatan Keamanan dalam Penyelesaian Konflik

JAYAPURA–Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dalam Seruan Pastoral Hari Kebangkitan Nasional (HKN) 2026 menyoroti berbagai persoalan sosial yang masih membelit bangsa Indonesia, termasuk konflik berkepanjangan di Papua yang dinilai belum diselesaikan secara manusiawi dan bermartabat. Seruan politik yang disampaikan Presidium KWI di Jakarta, Rabu (20/5), dibacakan langsung oleh Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr. Yanuarius Theofilus Matopai You, yang juga merupakan anggota KWI.

Dalam seruan tersebut, KWI menilai situasi sosial di Indonesia menunjukkan adanya luka sosial yang semakin nyata. Tekanan ekonomi, meningkatnya kecemasan generasi muda, kekerasan terhadap perempuan dan anak, hingga minimnya perlindungan terhadap kelompok rentan disebut sebagai tanda bahwa pembangunan nasional belum sepenuhnya menyentuh martabat manusia. Namun perhatian terbesar diarahkan pada kondisi Papua.

Baca Juga :  SMAN 4 Jayapura Dipalang Calon Ortu Siswa?

KWI menegaskan bahwa persoalan Papua tidak bisa semata-mata dipandang sebagai isu keamanan dan pembangunan fisik.

“Kita juga tidak dapat menutup mata terhadap luka panjang yang masih dirasakan saudara-saudari kita di tanah Papua. Kekerasan, ketakutan, dan kurangnya rasa saling percaya telah meninggalkan luka batin yang mendalam pada lintas generasi,” demikian isi seruan yang dibacakan Mgr. Yan You.

Tolak Pendekatan Keamanan dalam Penyelesaian Konflik

JAYAPURA–Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dalam Seruan Pastoral Hari Kebangkitan Nasional (HKN) 2026 menyoroti berbagai persoalan sosial yang masih membelit bangsa Indonesia, termasuk konflik berkepanjangan di Papua yang dinilai belum diselesaikan secara manusiawi dan bermartabat. Seruan politik yang disampaikan Presidium KWI di Jakarta, Rabu (20/5), dibacakan langsung oleh Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr. Yanuarius Theofilus Matopai You, yang juga merupakan anggota KWI.

Dalam seruan tersebut, KWI menilai situasi sosial di Indonesia menunjukkan adanya luka sosial yang semakin nyata. Tekanan ekonomi, meningkatnya kecemasan generasi muda, kekerasan terhadap perempuan dan anak, hingga minimnya perlindungan terhadap kelompok rentan disebut sebagai tanda bahwa pembangunan nasional belum sepenuhnya menyentuh martabat manusia. Namun perhatian terbesar diarahkan pada kondisi Papua.

Baca Juga :  Belum Ada Kejelasan Lockdown

KWI menegaskan bahwa persoalan Papua tidak bisa semata-mata dipandang sebagai isu keamanan dan pembangunan fisik.

“Kita juga tidak dapat menutup mata terhadap luka panjang yang masih dirasakan saudara-saudari kita di tanah Papua. Kekerasan, ketakutan, dan kurangnya rasa saling percaya telah meninggalkan luka batin yang mendalam pada lintas generasi,” demikian isi seruan yang dibacakan Mgr. Yan You.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya