Friday, March 13, 2026
26.4 C
Jayapura

Kasus Ini Bukan Sekadar Kehilangan Anggota Keluarga, Tapi Simbol Ketidakadilan

Bincang-bincang Bersama Keluarga Almarhumah Martina Biri, Pasien yang Meninggal di RSUD Yowari Sebelum Mendapat Penanganan Medis

Rumah sakit yang menjadi harapan banyak orang untuk mendapatkan kesembuhan, kini terbentur dengan berbagai aturan dan administrasi, nyawa manusia tak lagi menjadi perhatian serius.

Laporan: Yohana_SENTANI

Malam itu, suasana duka menyelimuti rumah keluarga Arman Keroman. Isak tangis tak henti terdengar dari dalam rumah sederhana itu. Keluarga, kerabat, dan tetangga berkumpul dengan wajah penuh kesedihan. Mereka masih sulit menerima kenyataan bahwa Martina Biri, seorang mahasiswi semester tujuh di Universitas Cenderawasih, telah pergi untuk selamanya.

Kepergian Martina bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarga, tetapi juga menyisakan luka yang mendalam bagi banyak orang. Gadis muda yang sedang menempuh pendidikan tinggi itu menghembuskan napas terakhir di depan pintu Unit Gawat Darurat RSUD Yowari setelah menunggu pertolongan medis yang tak kunjung datang.

Kisah itu kini menjadi perbincangan luas di masyarakat. Banyak yang merasa kehilangan kepercayaan terhadap pelayanan kesehatan di Kabupaten Jayapura. Keterlambatan penanganan, kurangnya empati, hingga aturan administrasi yang dianggap lebih penting daripada nyawa manusia, meninggalkan stigma pahit di hati keluarga dan masyarakat.

Baca Juga :  Daud Arim Masih Optimis

Arman Keroman, dengan suara bergetar, mencoba menceritakan kembali apa yang dialami Martina sebelum akhirnya meninggal dunia. Menurutnya, keluarga telah berusaha membawa Martina berobat beberapa kali, namun selalu berujung penolakan.

Pada 13 Februari 2026, keluarga pertama kali membawa Martina ke RSUD Yowari untuk mendapatkan perawatan medis. Namun harapan mereka pupus ketika pihak rumah sakit menolak pasien dengan alasan kepesertaan BPJS Martina masih terdaftar di Wamena.

“Pihak rumah sakit bilang BPJS-nya beralamat di Wamena, jadi mereka hanya bisa melayani pasien yang beralamat di Kabupaten Jayawijaya,” ungkap Arman dengan penuh kekecewaan.

Keluarga pun pulang dengan perasaan hampa. Namun kondisi Martina terus memburuk. Pada 4 Maret 2026, mereka kembali membawa Martina ke rumah sakit yang sama dengan harapan bisa mendapatkan pertolongan. Sayangnya, jawaban yang diterima tetap sama. Martina kembali pulang tanpa pengobatan.

Baca Juga :  Biaya Rp 150 Ribu Saja, Saksi Ahli dari Dosen yang Tak Minta Dibayar

Kondisi itu membuat keluarga diliputi ketakutan. Mereka khawatir jika membawa Martina ke rumah sakit lain di Kota Jayapura atau sekitarnya, mereka akan menghadapi penolakan yang sama karena masalah administrasi BPJS.

Meski begitu, keluarga tidak menyerah. Mereka mencoba mengurus perubahan alamat BPJS Martina agar terdaftar di Kabupaten Jayapura.

Dari informasi yang mereka terima di kantor BPJS, kepesertaan Martina seharusnya sudah aktif di wilayah tersebut sejak 3 Maret. Namun ketika kembali berobat pada 4 Maret, rumah sakit tetap menolak memberikan pelayanan.

Harapan terakhir keluarga terjadi pada 8 Maret 2026. Untuk ketiga kalinya, Martina dibawa ke RSUD Yowari. Kondisinya saat itu sudah sangat lemah. Namun setibanya di rumah sakit, keluarga justru diminta menunggu di luar.

Bincang-bincang Bersama Keluarga Almarhumah Martina Biri, Pasien yang Meninggal di RSUD Yowari Sebelum Mendapat Penanganan Medis

Rumah sakit yang menjadi harapan banyak orang untuk mendapatkan kesembuhan, kini terbentur dengan berbagai aturan dan administrasi, nyawa manusia tak lagi menjadi perhatian serius.

Laporan: Yohana_SENTANI

Malam itu, suasana duka menyelimuti rumah keluarga Arman Keroman. Isak tangis tak henti terdengar dari dalam rumah sederhana itu. Keluarga, kerabat, dan tetangga berkumpul dengan wajah penuh kesedihan. Mereka masih sulit menerima kenyataan bahwa Martina Biri, seorang mahasiswi semester tujuh di Universitas Cenderawasih, telah pergi untuk selamanya.

Kepergian Martina bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarga, tetapi juga menyisakan luka yang mendalam bagi banyak orang. Gadis muda yang sedang menempuh pendidikan tinggi itu menghembuskan napas terakhir di depan pintu Unit Gawat Darurat RSUD Yowari setelah menunggu pertolongan medis yang tak kunjung datang.

Kisah itu kini menjadi perbincangan luas di masyarakat. Banyak yang merasa kehilangan kepercayaan terhadap pelayanan kesehatan di Kabupaten Jayapura. Keterlambatan penanganan, kurangnya empati, hingga aturan administrasi yang dianggap lebih penting daripada nyawa manusia, meninggalkan stigma pahit di hati keluarga dan masyarakat.

Baca Juga :  PDAM Janji akan Perbaiki Sarana Air Bersih di Penampungan Para Lansia

Arman Keroman, dengan suara bergetar, mencoba menceritakan kembali apa yang dialami Martina sebelum akhirnya meninggal dunia. Menurutnya, keluarga telah berusaha membawa Martina berobat beberapa kali, namun selalu berujung penolakan.

Pada 13 Februari 2026, keluarga pertama kali membawa Martina ke RSUD Yowari untuk mendapatkan perawatan medis. Namun harapan mereka pupus ketika pihak rumah sakit menolak pasien dengan alasan kepesertaan BPJS Martina masih terdaftar di Wamena.

“Pihak rumah sakit bilang BPJS-nya beralamat di Wamena, jadi mereka hanya bisa melayani pasien yang beralamat di Kabupaten Jayawijaya,” ungkap Arman dengan penuh kekecewaan.

Keluarga pun pulang dengan perasaan hampa. Namun kondisi Martina terus memburuk. Pada 4 Maret 2026, mereka kembali membawa Martina ke rumah sakit yang sama dengan harapan bisa mendapatkan pertolongan. Sayangnya, jawaban yang diterima tetap sama. Martina kembali pulang tanpa pengobatan.

Baca Juga :  Kecelakaan Karena Miras, Silahkan Tanggung Biaya Sendiri

Kondisi itu membuat keluarga diliputi ketakutan. Mereka khawatir jika membawa Martina ke rumah sakit lain di Kota Jayapura atau sekitarnya, mereka akan menghadapi penolakan yang sama karena masalah administrasi BPJS.

Meski begitu, keluarga tidak menyerah. Mereka mencoba mengurus perubahan alamat BPJS Martina agar terdaftar di Kabupaten Jayapura.

Dari informasi yang mereka terima di kantor BPJS, kepesertaan Martina seharusnya sudah aktif di wilayah tersebut sejak 3 Maret. Namun ketika kembali berobat pada 4 Maret, rumah sakit tetap menolak memberikan pelayanan.

Harapan terakhir keluarga terjadi pada 8 Maret 2026. Untuk ketiga kalinya, Martina dibawa ke RSUD Yowari. Kondisinya saat itu sudah sangat lemah. Namun setibanya di rumah sakit, keluarga justru diminta menunggu di luar.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya