Sunday, January 25, 2026
26.7 C
Jayapura

Tunggakan Menumpuk, Petugas RSJ Abepura Mogok

JAYAPURA – Wajah pelayanan kesehatan di Provinsi Papua “masih sakit”. Semangat dan konsep pembangunan kesehatan yang lebih baik selalu di dengung-dengungkan. Bahkan kadang DPR maupun eksekutif kerap melontarkan kalimat jangan lagi pelayanan terganggu, jangan lagi ada pasien ditolak dan jangan lagi ada yang mengeluh karena buruknya pelayanan. Kalimat ini terkesan hanya bombastis ketika ada masalah namun setelah itu persoalan serupa muncul lagi.

Ini terlihat di dua rumah sakit pemerintah yakni RSJ Abepura dan RSUD Jayapura. Bahkan untuk pelayanan rawat jalan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Abepura untuk sementara waktu ditutup, hingga waktu yang tidak ditentukan. Penutup dilakukan diklaim atas persetujuan perwakilan 12 kepala unit rumah sakit. Adapun penutupan itu disampaikan langsung oleh sejumlah tenaga medis dan perawatan RSJ Abepura.

Baca Juga :  RSUD Abepura Bakal Lapor Penyebar Foto Pasien yang "Dicap" Mpox

Serta, melalui pengumuman tertulis yang ditujukan kepada seluruh masyarakat dan pengunjung Rumah sakit pada, Kamis (22/1). Penutupan tersebut mencakup pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD), poliklinik, laboratorium, serta farmasi. Kepada Cenderawasih Pos di lokasi, Welmince Wasawai salah satu suster sekaligus orator dalam aksi tersebut mengatakan bahwa penutupan tersebut dilakukan karena ditemukan sejumlah kendala serius yang belum terselesaikan.

Beberapa diantaranya adalah tidak tersedianya sejumlah obat-obatan di apotek rumah sakit, serta ketiadaan reagen di laboratorium yang dianggap menghambat pelayanan pemeriksaan medis.

“Kami melakukan orasi ini. Untuk sementara pelayanan rawat jalan, polik dan IGD di Rumah Sakit Jiwa Abepura kami tutup. Terkait dengan ketersediaan obat-obatan sangat kurang atau tidak ada. Untuk di laboratorium reagennya tidak ada. Hanya ketersediaan untuk pemeriksaan malaria saja. Sementara yang lainnya tidak ada,” ungkap Welmince.

Baca Juga :  Serang Polisi, Warga Arso III Ditembak

JAYAPURA – Wajah pelayanan kesehatan di Provinsi Papua “masih sakit”. Semangat dan konsep pembangunan kesehatan yang lebih baik selalu di dengung-dengungkan. Bahkan kadang DPR maupun eksekutif kerap melontarkan kalimat jangan lagi pelayanan terganggu, jangan lagi ada pasien ditolak dan jangan lagi ada yang mengeluh karena buruknya pelayanan. Kalimat ini terkesan hanya bombastis ketika ada masalah namun setelah itu persoalan serupa muncul lagi.

Ini terlihat di dua rumah sakit pemerintah yakni RSJ Abepura dan RSUD Jayapura. Bahkan untuk pelayanan rawat jalan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Abepura untuk sementara waktu ditutup, hingga waktu yang tidak ditentukan. Penutup dilakukan diklaim atas persetujuan perwakilan 12 kepala unit rumah sakit. Adapun penutupan itu disampaikan langsung oleh sejumlah tenaga medis dan perawatan RSJ Abepura.

Baca Juga :  Dugaan Cawe-cawe Partai Coklat Jadi Indikasi Kemunduran Demokrasi

Serta, melalui pengumuman tertulis yang ditujukan kepada seluruh masyarakat dan pengunjung Rumah sakit pada, Kamis (22/1). Penutupan tersebut mencakup pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD), poliklinik, laboratorium, serta farmasi. Kepada Cenderawasih Pos di lokasi, Welmince Wasawai salah satu suster sekaligus orator dalam aksi tersebut mengatakan bahwa penutupan tersebut dilakukan karena ditemukan sejumlah kendala serius yang belum terselesaikan.

Beberapa diantaranya adalah tidak tersedianya sejumlah obat-obatan di apotek rumah sakit, serta ketiadaan reagen di laboratorium yang dianggap menghambat pelayanan pemeriksaan medis.

“Kami melakukan orasi ini. Untuk sementara pelayanan rawat jalan, polik dan IGD di Rumah Sakit Jiwa Abepura kami tutup. Terkait dengan ketersediaan obat-obatan sangat kurang atau tidak ada. Untuk di laboratorium reagennya tidak ada. Hanya ketersediaan untuk pemeriksaan malaria saja. Sementara yang lainnya tidak ada,” ungkap Welmince.

Baca Juga :  Pihak Rumah Sakit Ungkap Keterbatasan Fasilitas

Berita Terbaru

Artikel Lainnya