Akibat tabrakan itu, korban K yang merupakan anggota Brimob meninggal dunia beberapa saat setelah dibawa ke RSUD Merauke. Sementara S yang merupakan anggota TNI, saat ini masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Angkatan Laut Merauke.Â
  Wakil Ketua Komisi A DPRD Merauke yang salah satunya membidangi pemerintahan, Laode Kana saat ditemui media ini mengatakan, jika sudah ada yang terpilih maka seharusnya dilantik saja. Karena pro kontra atau ada pihak tidak mau menerima kekalahan adalah hal yang biasa.
Namun sebelum dimakamkan, terlebih dahulu diawali dengan daftar riwayat hidup almarhum, sambutan-sambutan dan misa reqium di rumah duka, Jalan Dom, Kelurahan Kelapa Lima Merauke.
‘’Pelantikan 2 kepala kampung di Distrik Naukenjerai yakni Kuler dan Onggaya masih kita tunda karena masih bermasalah. Masih ada pro kontra terhadap kemenangan calon terpilih di kedua kampung itu, mereka mengatakan bahwa kemenangan tidak sah,’’kata Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung Kabupaten Merauke, Drs. Daud Holenger, M.Pd, ketika ditemui, Senin (22/8). Â
Akibatnya, korban mengalami luka di bagian pungung kanan dan saat ini masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Bunda Pengharapan Merauke. Kasus penganiayaan ini dialami korban di Jalan Cikombong, Kelurahan Kamundu, Merauke, Jumat (19/8) sekitar pukul 13.25 WIT.Â
‘’Kami untuk Merauke sebanyak 24 parpol yang harus kami verifikasi. Awalnya 23 parpol tapi terakhir masuk Partai Persindo sehingga total 24 partai yang harus kami verifikasi secara administrasi,’’ ungkap Devisi Tehnis dan Data KPU Kabupaten Merauke, Michael Sarawan, ketika ditemui di kantor KPU Kabupaten Merauke, Senin (22/8).
  Pastor Aloysius Kelbulan yang diangkat sebagai Ketua PSW YPPK Merauke sejak April lalu itu mengatakan, pihaknya fokus membenahi sekolah-sekolah yang tidak dapat melaksanakan ujian akhir sekolah tersebut, dengan mengusulkan nama-nama kepala sekolah ke Bupati Merauke untuk dilantik sebagai kepala sekolah defenitif.Â
   Sementara hadiah door prize yang disediakan berupa 2 unit sepeda motor, TV LCD, Kulkas, mesin cuci, sepeda gunung, kipas angin, setrika, mejic com, helm dan jeket dan hadiah hiburan lainnya. Bahkan karena banyaknya warga yang mengikuti jalan santai tersebut, membuat sebagian peserta tidak kebagian nomor undian.
Ditemui di ruang kerjanya, Jumat (19/8), lulusan Teknik Sipil  Sekolah Tinggi Teknik (STITEK) Dharma Yadi, salah satu perguruan tinggi swasta di Makassar, Tahun 1999 ini menceritakan pengalaman pahitnya yang kalah itu sudah menjadi anak yatim.
‘’Kami berharap pemerintah bisa memperhatikan dengan membangun rumah layak huni. Kami memang ada rumah untuk istirahat dari hujan dan panas di siang hari, tapi rumah yang hanya beratapkan nipah dan kurang layak,’’katanya. Â