Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Jayapura Dessy Y. Wanggai, mengungkapkan, pemerintah Kota Jayapura telah membayarkan gaji Tunjangan Hari Raya (THR) estimasi sebesar Rp Rp.17.617.004.520
Kepala Lapas Kelas II Abepura, Sulistyo Wibowo menjelaskan, saat ini penghuni di Lapas Kelas II Abepura terdapat 687 orang, yang mana didalam Lapas sebanyak 667, sementara yang di luar Lapas masih dalam status tahanan sebanyak 20 orang.
Pengadaan kendaraan Dinas jabatan melalui BPKAD Kota Jayapura ini diserahkan Wali Kota Jayapura Dr. Benhur Tomi Mano, MM didampingi Kepala Badan Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Jayapura Desi Y. Wanggai di Kantor Wali Kota Jayapura, Rabu (27/4)kemarin
Wali Kota Jayapura Dr Benhur Tomi Mano,MM., mengungkapkan, launching SI Reklame adalah bagian inovasi Bapenda Kota Jayapura. Diharapkan Bapenda bisa konsisten dalam menjaga inovasi ini tetap digunakan dengan baik, tidak hanya pada saat launching saja, tapi harus bisa disosilisasikan terus kepada masyarakat khususnya wajib pajak, supaya mereka juga bisa memanfaatkannya dengan baik.
Sekda Kota Jayapura Dr.Frans Pekey, M.Si, mengatakan, walaupun libur ASN cukup lama namun, dalam pelayanan kesehatan masih tetap diberikan karena pelayanan kesehatan ini utama.
Oleh karena itu, lanjut Sekda, kepala adat atau ondoafi mempunyai peran penting di kampung. Diharpakan juga ondoafi bisa dengan bijak dalam mendukung suksesnya Pemilihan Kepala Kampung secara serentak ini. Tak hanya Ondoafi, masyarakat kampung juga diminta berperan aktif untuk memberikan partisipasinya dengan memberikan hak suara.
Wali Kota Jayapura Dr.Benhur Tomi Mano, MM dan Wakil Wali Kota Jayapura Dr.Ir.H.Rustan Saru, MM.,akan mengakhiri masa jabatan pada tanggal 22 Mei 2022. Dalam masa kerjanya 5 tahun terakhir ini, banyak telah dikerjakan diberbagai sektor, baik sektor Pembangunan, kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan tata kelola pemerintahan serta lainnya.
Kepada awak media Rustan menjelaskan longsoran tersebut terjadi akibat tergerusnya bibir sungai dan talud yang tidak mampu menahan beban. "Ini karena talud tidak mampu lagi menahan beban karena sudah tergerus bagian bawahnya. Akibatnya sebagian badan jalan pun ikut ambles," ujarnya.
"Bulan Januari lalu ada yang gali kabel optik di situ, tapi setelah digali, drainasenya tidak diperbaiki kembali,” tutur Martinus Rapi kepada wartawan, Selasa (26/4).
Namun yang ia sayangkan semangat pedagang asli Papua yang sudah berjualan pinang, sayur mayur bumbu dapur dan hasil laut maupun kebun, bukanya didukung oleh pemerintah dengan membangun tempat yang layak, tetapi malah membiarkan mereka terus berada di pinggir jalan.