Dia mengatakan kenaikan harga beras yang terjadi secara nasional pada minggu ketiga dan ke-4 Februari itu memicu inflasi tinggi di sejumlah daerah termasuk di Kota Jayapura. Kendati demikian besaran inflasi di Kota Jayapura masih tergolong terendah dibanding dengan beberapa daerah lainnya di Indonesia.
Kepala Seksi Perdagangan Dalam Negeri Dan Sarana Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Papua, Baji mengatakan selain itu juga dilakukan guna memastikan kestabilan harga bahan pokok maupun komoditi pertanian yang sering menjadi penyumbang inflasi.
Pasalnya, produksi beras dalam 2-3 tahun terakhir ini sangat menurun menyebabkan harga beras terus melonjak naik. Saat ini di Merauke harga beras tembus Rp 20.000 perkilonya untuk beras premium jenis Thailand. Sedangkan harga terendah Rp 16.500 perkilonya.
Meski ada kenaikan harga beras untuk Papua, tetapi tidak begitu berdampak besar pada inflasi. Hal ini diungkapkan Kepala BPS Provinsi Papua, Adriana Carolin bahwa upaya mengontrol inflasi di Papua khususnya Kota Jayapura sudah baik.
Elsya menuturkan, program harga spesial ini diharapkan ke depan bisa diberlakukan juga untuk masyarakat umum. Terutama saat pergerakan penumpang pesawat yang meningkat dimomen libur lebaran atau natal.
Seperti yang terpantau oleh media ini di Jalan Sutan Syahril, yang kini menjadi pusat penjaulan beras di Merauke, harga beras tersebut rata-rata antara Rp 14.000-16.000 perkilonya. Meski masih ada harga Rp 13.000 dan Rp 13.500 namun beras yang dijual dengan harga tersebut sudah setengah menir. Artinya, lebih dari 50 persen merupakan beras patahan.
Ketua DPD Hiswana Migas Papua Maluku, Ledryk J Lekenila (Ongen) mengatakan, terkait harga jual BBM di daerah pegunungan seperti Kab. Puncak Jaya dan Provinsi Papua Tengah tetap sama dengan harga jual BBM yang ada di Jayapura.
Apalagi kenaikan harga barang kebutuhan pokok sudah terjadi sejak Desember 2023. Itu karena adanya hari raya keagamaan, dilanjutkan dengan seremonial peringatan pergantian tahun baru. Permintaan bahan kebutuhan pokok seperti makanan dan minuman cukup tinggi sehingga mempengaruhi tingkat inflasi secara nasional.
“Yang pertama cabai naiknya cukup tinggi, itu Rp 150.000 sampai Rap 160 ribu per kg, cabai keriting 100 ribu per kilo biasanya naiknya itu 60 sampai 70.000. Jadi melonjaknya sangat tinggi,"
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Mimika, Petrus Pali Ambaa yang ditemui Senin (18/12/2023) di Lapangan Kantor Pusat Pemerintahan Mimika, mengatakan dari pantauan harga pasar, hanya cabe yang harganya melambung tinggi. Biasanya Rp 80 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp 150 ribu per kilogram.