“Kami pikir mau datang hanya untuk minum kopi namun saat mendekat tiba – tiba kami semua dikelilingi dan siap untuk memanah dan ditembak,” kata Isa, salah satu korban selamat, Jumat (20/10). Ia menceritakan ketika itu ada seorang temannya yang hendak ditembak namun tidak bisa tertembak karena peluru macet.
“Jadi pihak Egianus menghubungi kami dan meminta penjelasan siapa saja pelaku yang sudah ditangkap. Mereka menolak disebut sebagai pelaku sebab memang tidak ada perintah untuk itu,” kata Frits di ruang kerjanya, Kamis (19/10). Apalagi jika melihat aksi – aksi yang dilakukan selama ini, KKB tak pernah menyembunyikan korban – korban yang sudah dieksekusi.
“Kami mendapat informasi yang banyak, juga membaca dari media bahwa memang ada eskalasi keamanan di 3 wilayah itu kurang kondusif sehingga sudah jelas sangat mengganggu tahapan yang kami jalankan,”ungkapnya kepada Cenderawasih Pos saat ditemui di Wamena Jumat (20/10) kemarin.
Proses evakuasi ini dipimpin oleh Aiptu Mujiono dengan melibatkan delapan personel Yon A Pelopor yang datang dengan persenjataan lengkap. “Jadi pada pukul 13.30 WIT evakuasi dilakukan angota kami dari Yon A Pelopor yang dipimpin Aiptu Mujiono da nada 4 penambang yang akhirnya kami bawa ke ibukota Dekai,” kata Danyon A Pelopor, Kompol Clif Gerald Duwith dalam pesan singkatnya Jumat malam.
Kelompok ini juga berjejaring dengan Kodap III Ndugama pimpinan Egianus Kogoya. Lalu terkait mengapa lokasi penambangan yang dijadikan tempat eksekusi warga sipil dikatakan bahwa KKB juga membutuhkan support logistik dan lokasi tambang dipilih lantaran bisa mendapatkan bahan makanan, emas maupun barang berharga lainnya.
"Memang benar, saat kontak tembak pada Jumat (20/10), seorang KKB di wilayah kepala air yang diduga merupakan kelompok Titus Murib tewas," kata Letkol Inf Arif Ritongan dalam keterangan tertulisnya kepada Antara, Sabtu (21/10).
Para penambang yang kabur ini sempat bersembunyi hingga akhirnya diketahui oleh Satgas Operasi Damai Cartenz. Tanpa menunggu lama tim langsung bergerak menuju lokasi dan berhasil melakukan penyelamatan dan mengevakuasi 9 penambang tersebut.
“Jadi pernyataan Juru Bicara (Jubir) TPN-OPM, Sebby Sambom dan kekerasan yang dilakukan TPN-OPM terhadap warga sipil di Tanah Papua kian meresahkan dan mengaburkan perjuangan,” ucap Yuranus Jikwa melalui rilis yang diterima Ceposonline.com, Kamis (19/10/2023).
Ka Ops Damai Cartenz Kombes Pol Faizal Ramadhani dalam siaran pers yang diterima Antara di Jayapura, Kamis, mengatakan penyerangan tersebut mengakibatkan satu orang meninggal dunia dan dua orang mengalami luka terkena anak panah sementara 19 orang lainnya berhasil selamat.
Kepala Operasi Damai Cartenz Kombespol Faizal Ramadhani menerangkan, jumlah 30 orang KST itu berdasar keterangan para saksi. Para pelaku terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama bertugas menyerang pekerja tambang dengan menggunakan senjata api, tombak, parang, dan panah.