TOLIKARA — Kerukunan antarumat beragama bukan sekadar slogan, tetapi sebuah tanggung jawab bersama yang harus diwujudkan melalui hubungan yang baik, saling menghargai, dan membangun kerja sama di tengah keberagaman masyarakat.
Pesan inilah yang mengemuka dalam Dialog Tokoh-tokoh Agama se-Kabupaten Tolikara yang digelar Kementerian Agama melalui Direktorat Urusan Agama Kristen,di gedung GIDI Ebenhaezar Karubaga Senin, (10/8).
Mengusung tema “Merajut Kerukunan di Tanah Injil, Peran Tokoh Agama Menjaga Kedamaian Tolikara,” dialog tersebut mempertemukan tokoh-tokoh agama Kristen, Islam, serta unsur keagamaan lainnya dalam satu ruang kebersamaan.
Bupati Tolikara Willem Wandik, S.Sos. dalam sambutannya, bahwa Tolikara memiliki posisi strategis dalam kehidupan sosial, budaya, keagamaan, bahkan dalam dinamika pembangunan di Tanah Papua.
Menurut Willem Wandik, karena posisi strategis tersebut, masyarakat Tolikara memiliki tanggung jawab moral untuk membangun hubungan yang baik, bukan hanya dengan Tuhan, tetapi juga dengan sesama manusia tanpa membedakan latar belakang agama.
“Kita harus mempunyai relasi yang baik dengan Tuhan dan relasi yang baik dengan sesama umat beragama. Kalau hubungan itu kita bangun dengan baik, maka kita dapat hidup dalam damai dan menjadi berkat bagi orang lain,” ujar Bupati Willem Wandik.
Sementara itu, Direktur Urusan Agama Kristen, Luksen Jems Mayor, S.Sos., M.AP., memberikan apresiasi tinggi kepada Bupati Tolikara Willem Wandik,S.Sos dan Wakil Bupati Yotam Wonda, S.H., M.Si., atas dukungan terhadap pelaksanaan dialog lintas tokoh agama tersebut.
Menurutnya, pertemuan seperti ini merupakan bukti bahwa pemerintah daerah memiliki kepedulian terhadap pentingnya membangun komunikasi dan hubungan yang harmonis di antara umat beragama.