Ukuran partikel yang berkisar antara 0,40 hingga 10 mikron ini jauh lebih kecil dibandingkan diameter pembuluh kapiler manusia (5-10 mikron). Artinya, partikel ini dapat mengalir bebas, menembus jaringan terdalam tubuh, dan berinteraksi langsung dengan sel-sel vital.Dari hasil identifikasi, jenis polimer yang paling mendominasi adalah Polyester 28 persen, disusul Polyisobutylene 24 persen Polyethylene 32 persen, dan PET 16 persen.
Dominasi polyester ini menjadi sorotan tajam karena merupakan bahan baku utama industri pakaian dan tekstil. “Fakta bahwa polimer tekstil menjadi penyumbang terbesar dalam darah subjek penelitian kami menunjukkan bahwa apa yang kita kenakan setiap hari berpotensi menjadi racun yang mengalir di dalam nadi,” tegasnya.
Keberadaan benda ini memicu reaksi biologis berbahaya. Partikel plastik dapat menyebabkan sel darah merah pecah (hemolisis), memicu penggumpalan darah yang berisiko stroke dan penyakit jantung.
Selain itu, sistem imun tubuh menjadi kelelahan karena terus-menerus berusaha menghancurkan plastik yang tidak bisa terurai, sehingga menurunkan daya tahan tubuh dan memicu penuaan dini. Temuan sebelumnya pada Februari 2026 juga mengidentifikasi mikroplastik dalam sperma dan air ketuban.
“Dalam sampel sperma ditemukan 6-7 partikel yang berisiko menurunkan kesuburan.
Sementara pada 45 sampel air ketuban di Gresik, ditemukan 3-4 partikel polyethylene yang dapat mengganggu perkembangan janin, menyebabkan kekurangan nutrisi, hingga kelahiran prematur,” jelasnya.
Ukuran partikel yang berkisar antara 0,40 hingga 10 mikron ini jauh lebih kecil dibandingkan diameter pembuluh kapiler manusia (5-10 mikron). Artinya, partikel ini dapat mengalir bebas, menembus jaringan terdalam tubuh, dan berinteraksi langsung dengan sel-sel vital.Dari hasil identifikasi, jenis polimer yang paling mendominasi adalah Polyester 28 persen, disusul Polyisobutylene 24 persen Polyethylene 32 persen, dan PET 16 persen.
Dominasi polyester ini menjadi sorotan tajam karena merupakan bahan baku utama industri pakaian dan tekstil. “Fakta bahwa polimer tekstil menjadi penyumbang terbesar dalam darah subjek penelitian kami menunjukkan bahwa apa yang kita kenakan setiap hari berpotensi menjadi racun yang mengalir di dalam nadi,” tegasnya.
Keberadaan benda ini memicu reaksi biologis berbahaya. Partikel plastik dapat menyebabkan sel darah merah pecah (hemolisis), memicu penggumpalan darah yang berisiko stroke dan penyakit jantung.
Selain itu, sistem imun tubuh menjadi kelelahan karena terus-menerus berusaha menghancurkan plastik yang tidak bisa terurai, sehingga menurunkan daya tahan tubuh dan memicu penuaan dini. Temuan sebelumnya pada Februari 2026 juga mengidentifikasi mikroplastik dalam sperma dan air ketuban.
“Dalam sampel sperma ditemukan 6-7 partikel yang berisiko menurunkan kesuburan.
Sementara pada 45 sampel air ketuban di Gresik, ditemukan 3-4 partikel polyethylene yang dapat mengganggu perkembangan janin, menyebabkan kekurangan nutrisi, hingga kelahiran prematur,” jelasnya.