Nanik Deyang Berobat Jantung ke Luar Negeri, Indonesia Kekurangan Dokter Jantung?

JAKARTA – Nanik Sudaryati Deyang mengundurkan diri sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) karena akan menjalani pengobatan jantung ke luar negeri. Hal itu membuat ketersediaan dokter spesialis jantung di Indonesia kembali disoroti. Lantas, ada berapa jumlah dokter spesialis jantung di Indonesia?

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), hingga 2026 Indonesia baru memiliki 1.639 dokter spesialis jantung dan pembuluh darah (SpJP). Masih jauh dari kebutuhan nasional yang mencapai 6.801 dokter. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, peningkatan jumlah dokter spesialis jantung terus dipercepat seiring masifnya distribusi alat laboratorium kateterisasi (cath lab) ke berbagai daerah.

Menurutnya, ketersediaan alat kesehatan berteknologi tinggi tidak akan optimal tanpa didukung tenaga ahli yang memadai. “Begitu alat-alat ini terpasang, masalah yang paling berat adalah masalah tenaganya,” kata Menkes Budi saat menghadiri Konvokasi dan Inaugurasi PERKI 2026 di Jakarta, Sabtu (18/7) lalu. Berdasarkan data Kemenkes, jumlah dokter SpJP dengan kompetensi kardiologi intervensi meningkat signifikan dalam enam tahun terakhir.

Baca Juga :  Bayi Monyet Punch Kuasai Algoritma

Pada 2020, Indonesia hanya memiliki 99 dokter dengan kompetensi tersebut. Jumlah itu meningkat menjadi 414 dokter pada 2026 atau bertambah 315 orang. Meski demikian, kebutuhan dokter spesialis jantung secara nasional masih sangat besar karena jumlah penduduk yang juga besar.

Kemenkes memperkirakan Indonesia saat ini membutuhkan 6.801 dokter SpJP, sedangkan yang tersedia saat ini baru mencapai 1.639 dokter atau 24 persennya. Artinya, masih terdapat kekurangan sekitar 5.162 dokter.Untuk mempercepat pemenuhan tenaga spesialis, Kemenkes secara rutin mengirim dokter mengikuti program fellowship jantung di luar negeri.

Hingga kini sebanyak 98 dokter telah diberangkatkan ke Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, dan Malaysia. Sebanyak 58 dokter telah menyelesaikan pendidikan dan kembali mengabdi di Indonesia, sementara 10 dokter lainnya akan segera diberangkatkan. Selain jumlah yang masih terbatas, pemerataan dokter spesialis jantung juga menjadi tantangan. Sebanyak 63,8 persen dokter SpJP masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, terutama di DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat.

Ketua Kolegium Jantung dan Pembuluh Darah Renan Sukmawan menegaskan peningkatan jumlah dokter harus diimbangi dengan kualitas lulusan yang setara melalui ujian nasional (board examination). “Bagi kami di Kolegium Jantung, jalur pendidikan mana pun yang ditempuh tidak menjadi masalah. Yang paling penting adalah kualitas lulusannya harus sama melalui ujian nasional (board examination), demi melayani masyarakat di seluruh pelosok negeri,” tegas Renan.

Baca Juga :  Revisi UU Kementerian Negara, Jumlah Menteri Bertambah dari 34 Jadi 40

Ketua PERKI Ade Median Ambari juga mengingatkan para dokter spesialis jantung yang baru dikukuhkan agar tetap menjunjung tinggi profesionalisme dan mengedepankan evidence-based medicine dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sebelumnya, Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan karena akan menjalani pengobatan jantung ke luar negeri untuk memperoleh second opinion.

Ia menegaskan keputusan tersebut bukan karena tidak percaya terhadap kemampuan dokter di Indonesia, melainkan atas rekomendasi rekan untuk mendapatkan pendapat medis tambahan.(*/JawaPos.com)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

 UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

JAKARTA – Nanik Sudaryati Deyang mengundurkan diri sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) karena akan menjalani pengobatan jantung ke luar negeri. Hal itu membuat ketersediaan dokter spesialis jantung di Indonesia kembali disoroti. Lantas, ada berapa jumlah dokter spesialis jantung di Indonesia?

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), hingga 2026 Indonesia baru memiliki 1.639 dokter spesialis jantung dan pembuluh darah (SpJP). Masih jauh dari kebutuhan nasional yang mencapai 6.801 dokter. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, peningkatan jumlah dokter spesialis jantung terus dipercepat seiring masifnya distribusi alat laboratorium kateterisasi (cath lab) ke berbagai daerah.

Menurutnya, ketersediaan alat kesehatan berteknologi tinggi tidak akan optimal tanpa didukung tenaga ahli yang memadai. “Begitu alat-alat ini terpasang, masalah yang paling berat adalah masalah tenaganya,” kata Menkes Budi saat menghadiri Konvokasi dan Inaugurasi PERKI 2026 di Jakarta, Sabtu (18/7) lalu. Berdasarkan data Kemenkes, jumlah dokter SpJP dengan kompetensi kardiologi intervensi meningkat signifikan dalam enam tahun terakhir.

Baca Juga :  Minta Pemprov Juga Melihat Fasilitas RSUD Wamena

Pada 2020, Indonesia hanya memiliki 99 dokter dengan kompetensi tersebut. Jumlah itu meningkat menjadi 414 dokter pada 2026 atau bertambah 315 orang. Meski demikian, kebutuhan dokter spesialis jantung secara nasional masih sangat besar karena jumlah penduduk yang juga besar.

Kemenkes memperkirakan Indonesia saat ini membutuhkan 6.801 dokter SpJP, sedangkan yang tersedia saat ini baru mencapai 1.639 dokter atau 24 persennya. Artinya, masih terdapat kekurangan sekitar 5.162 dokter.Untuk mempercepat pemenuhan tenaga spesialis, Kemenkes secara rutin mengirim dokter mengikuti program fellowship jantung di luar negeri.

Hingga kini sebanyak 98 dokter telah diberangkatkan ke Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, dan Malaysia. Sebanyak 58 dokter telah menyelesaikan pendidikan dan kembali mengabdi di Indonesia, sementara 10 dokter lainnya akan segera diberangkatkan. Selain jumlah yang masih terbatas, pemerataan dokter spesialis jantung juga menjadi tantangan. Sebanyak 63,8 persen dokter SpJP masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, terutama di DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat.

Ketua Kolegium Jantung dan Pembuluh Darah Renan Sukmawan menegaskan peningkatan jumlah dokter harus diimbangi dengan kualitas lulusan yang setara melalui ujian nasional (board examination). “Bagi kami di Kolegium Jantung, jalur pendidikan mana pun yang ditempuh tidak menjadi masalah. Yang paling penting adalah kualitas lulusannya harus sama melalui ujian nasional (board examination), demi melayani masyarakat di seluruh pelosok negeri,” tegas Renan.

Baca Juga :  Waspada, Hampir Setiap Hari Ada Korban Penipuan Kejahatan Siber

Ketua PERKI Ade Median Ambari juga mengingatkan para dokter spesialis jantung yang baru dikukuhkan agar tetap menjunjung tinggi profesionalisme dan mengedepankan evidence-based medicine dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sebelumnya, Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan karena akan menjalani pengobatan jantung ke luar negeri untuk memperoleh second opinion.

Ia menegaskan keputusan tersebut bukan karena tidak percaya terhadap kemampuan dokter di Indonesia, melainkan atas rekomendasi rekan untuk mendapatkan pendapat medis tambahan.(*/JawaPos.com)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

 UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Berita Terbaru

Artikel Lainnya