Menurut dia, di era keterbukaan informasi saat ini, upaya menutup-nutupi fakta hanya akan meruntuhkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara. Ubedilah meyakini bahwa prajurit di lapangan tidak mungkin bergerak tanpa adanya instruksi dari atasan atau pihak tertentu. “Jadi saya kira mesti menjadi momentum penting untuk tentara jujur, ya siapa aktor intelektual di balik ini. Kalau aktornya adalah bagian penting dari tentara, ya beri sanksi berat,” ujar Ubedilah dalam diskusi publik di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (18/3).
Lebih lanjut, Ubedilah menyoroti pola serangan air keras yang menyasar area wajah korban. Ia menegaskan bahwa aparat tidak boleh menyederhanakan kasus ini hanya sebagai penganiayaan ringan, melainkan harus melihat adanya potensi niat membunuh. “Serangan ke wajah menunjukkan adanya dugaan kuat pembunuhan berencana. Ini bukan penganiayaan biasa dan harus ditangani dengan pasal yang sesuai,” terangnya.
Ia juga mendorong Komnas HAM untuk segera membentuk tim pencari fakta, mengingat Andrie Yunus diserang saat menjalankan hak sipilnya dalam berpendapat. Senada, Koordinator Indonesia Millenials Center Yerikho Manurung menilai insiden ini sebagai alarm bahaya bagi demokrasi Indonesia. Penangkapan oknum TNI berinisial NDP, SL, BWH, dan ES dianggap mencerminkan adanya masalah serius dalam relasi kekuasaan.
Yerikho pun mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan atensi khusus agar kasus ini tidak menguap begitu saja.”Secara logika struktural, sulit dipercaya tindakan ini murni inisiatif pribadi. Ada kemungkinan keterkaitan dengan kepentingan tertentu yang merasa terganggu,” jelas Yerikho. DPR Diminta Turun Tangan Atasi “Tarik-Menarik” Kepentingan.
Menurut dia, di era keterbukaan informasi saat ini, upaya menutup-nutupi fakta hanya akan meruntuhkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara. Ubedilah meyakini bahwa prajurit di lapangan tidak mungkin bergerak tanpa adanya instruksi dari atasan atau pihak tertentu. “Jadi saya kira mesti menjadi momentum penting untuk tentara jujur, ya siapa aktor intelektual di balik ini. Kalau aktornya adalah bagian penting dari tentara, ya beri sanksi berat,” ujar Ubedilah dalam diskusi publik di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (18/3).
Lebih lanjut, Ubedilah menyoroti pola serangan air keras yang menyasar area wajah korban. Ia menegaskan bahwa aparat tidak boleh menyederhanakan kasus ini hanya sebagai penganiayaan ringan, melainkan harus melihat adanya potensi niat membunuh. “Serangan ke wajah menunjukkan adanya dugaan kuat pembunuhan berencana. Ini bukan penganiayaan biasa dan harus ditangani dengan pasal yang sesuai,” terangnya.
Ia juga mendorong Komnas HAM untuk segera membentuk tim pencari fakta, mengingat Andrie Yunus diserang saat menjalankan hak sipilnya dalam berpendapat. Senada, Koordinator Indonesia Millenials Center Yerikho Manurung menilai insiden ini sebagai alarm bahaya bagi demokrasi Indonesia. Penangkapan oknum TNI berinisial NDP, SL, BWH, dan ES dianggap mencerminkan adanya masalah serius dalam relasi kekuasaan.
Yerikho pun mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan atensi khusus agar kasus ini tidak menguap begitu saja.”Secara logika struktural, sulit dipercaya tindakan ini murni inisiatif pribadi. Ada kemungkinan keterkaitan dengan kepentingan tertentu yang merasa terganggu,” jelas Yerikho. DPR Diminta Turun Tangan Atasi “Tarik-Menarik” Kepentingan.