Pakar Ingatkan AI Tidak Membuat Manusia Lebih Cerdas

Tak hanya itu, Nosta menilai AI telah membalik urutan berpikir manusia. Proses kognitif manusia biasanya bergerak dari kebingungan, eksplorasi, pembentukan struktur, hingga keyakinan. AI justru memulai dari struktur dan rasa tuntas.

“Dengan AI, kita memulai dari koherensi, kefasihan, dan rasa kelengkapan, lalu setelah itu baru muncul keyakinan,” katanya.

Pembalikan ini menciptakan ilusi otoritas. Jawaban AI yang terdengar rapi dan meyakinkan sering kali diterima begitu saja. “Mendapatkan jawaban lebih dulu adalah pembalikan proses kognitif manusia,” ujar Nosta. “Itu bertentangan dengan cara berpikir manusia.” Dalam konteks kerja, kecepatan dan kelancaran pun kerap disalahartikan sebagai pemahaman.

Dia juga mengingatkan bahwa nilai berpikir manusia justru lahir dari proses yang tidak mulus. Manusia berkembang melalui proses mencoba, keliru, dan menguji kembali asumsi. “Yang penting itu justru tersandung, kekasaran, dan gesekan, karena di situlah observasi dan hipotesis berkembang,” kata Nosta. Jika AI digunakan sebagai jalan pintas dan bukan mitra berpikir, kemampuan bernalar manusia dapat melemah secara perlahan.

Baca Juga :  Utamakan Pendidikan, Siap Hadirkan Sejumlah Seminari      

Kekhawatiran serupa juga disampaikan Mehdi Paryavi, CEO International Data Center Authority, lembaga yang memberi nasihat kepada pemerintah dan perusahaan terkait infrastruktur AI.”Jika Anda mulai percaya bahwa AI menulis lebih baik dan berpikir lebih pintar dari Anda, Anda akan kehilangan kepercayaan pada diri sendiri,” kata Paryavi kepada Business Insider. Dia menyebut fenomena ini sebagai “erosi kognitif yang sunyi.”

Dalam konteks pergeseran global menuju otomatisasi berbasis AI, peringatan Nosta menempatkan isu ini sebagai tantangan strategis. Risiko utamanya bukan mesin yang semakin cerdas, melainkan manusia yang tanpa sadar menyerahkan proses bernalar dan mulai terbiasa berpikir mundur di era kecerdasan buatan. (*/JawaPos.com)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

Baca Juga :  Pemekaran Pengaruhi Verifikasi Parpol dan Dapil

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Tak hanya itu, Nosta menilai AI telah membalik urutan berpikir manusia. Proses kognitif manusia biasanya bergerak dari kebingungan, eksplorasi, pembentukan struktur, hingga keyakinan. AI justru memulai dari struktur dan rasa tuntas.

“Dengan AI, kita memulai dari koherensi, kefasihan, dan rasa kelengkapan, lalu setelah itu baru muncul keyakinan,” katanya.

Pembalikan ini menciptakan ilusi otoritas. Jawaban AI yang terdengar rapi dan meyakinkan sering kali diterima begitu saja. “Mendapatkan jawaban lebih dulu adalah pembalikan proses kognitif manusia,” ujar Nosta. “Itu bertentangan dengan cara berpikir manusia.” Dalam konteks kerja, kecepatan dan kelancaran pun kerap disalahartikan sebagai pemahaman.

Dia juga mengingatkan bahwa nilai berpikir manusia justru lahir dari proses yang tidak mulus. Manusia berkembang melalui proses mencoba, keliru, dan menguji kembali asumsi. “Yang penting itu justru tersandung, kekasaran, dan gesekan, karena di situlah observasi dan hipotesis berkembang,” kata Nosta. Jika AI digunakan sebagai jalan pintas dan bukan mitra berpikir, kemampuan bernalar manusia dapat melemah secara perlahan.

Baca Juga :  Pekerjaan di Pemkot Mulasi Diproses Lelang

Kekhawatiran serupa juga disampaikan Mehdi Paryavi, CEO International Data Center Authority, lembaga yang memberi nasihat kepada pemerintah dan perusahaan terkait infrastruktur AI.”Jika Anda mulai percaya bahwa AI menulis lebih baik dan berpikir lebih pintar dari Anda, Anda akan kehilangan kepercayaan pada diri sendiri,” kata Paryavi kepada Business Insider. Dia menyebut fenomena ini sebagai “erosi kognitif yang sunyi.”

Dalam konteks pergeseran global menuju otomatisasi berbasis AI, peringatan Nosta menempatkan isu ini sebagai tantangan strategis. Risiko utamanya bukan mesin yang semakin cerdas, melainkan manusia yang tanpa sadar menyerahkan proses bernalar dan mulai terbiasa berpikir mundur di era kecerdasan buatan. (*/JawaPos.com)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

Baca Juga :  Pembelian Solar Bersubsidi Dengan QR Code di Maluku Capai 100 Persen

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Berita Terbaru

Artikel Lainnya