Indonesia Tuntut PBB Selidiki Serangan Israel Terhadap 3 Prajurit TNI

Fahrizal gugur di pos UNIFIL di Adchit Al Qusayr, sementara Zulmi dan Muhammad tewas dalam serangan terhadap konvoi logistik di Bani Hayyan. Indonesia menilai serangan tersebut tidak dapat diterima dan menjadi kehilangan besar bagi Indonesia, PBB, serta komunitas internasional yang menjunjung tinggi perdamaian.

Selain korban jiwa, lima personel lainnya mengalami luka, yakni Kapten Sultan Wirdean Maulana, Kopral Rico Pramudia, Kopral Arif Kurniawan, Kopral Bayu Prakoso, dan Kadet Prajurit Deni Rianto. “Para penjaga perdamaian ini gugur dan terluka saat menjalankan mandat Dewan Keamanan,” ujar Umar dilansir dari Antara, Rabu (1/4). Indonesia mendesak pemulangan jenazah dilakukan secara cepat, aman, dan bermartabat, serta meminta perawatan optimal bagi personel yang terluka agar segera pulih sepenuhnya.

Baca Juga :  Tim Hukum Kodam Beri Penyuluhan

Ia menolak anggapan bahwa korban berada di zona perang aktif, seraya menekankan pentingnya mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab atas eskalasi konflik tersebut. Baca Juga:Panglima dan Wakil Panglima TNI Sampaikan Duka Cita Pasca Gugurnya 3 Prajurit TNI di Lebanon Selatan. Menurut Umar, ketegangan di Lebanon selatan dipicu serangan berulang militer Israel yang melanggar kedaulatan serta integritas wilayah Lebanon.

Indonesia menilai peningkatan serangan terhadap UNIFIL dalam beberapa pekan terakhir merupakan pola sistematis untuk melemahkan mandat Resolusi 1701. Serangan tersebut menjadi ancaman serius bagi perdamaian global dan berpotensi dikategorikan sebagai kejahatan perang berdasarkan hukum internasional, katanya. (*)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Baca Juga :  Dandim Merauke Ingatkan Anggotanya Tidak Main Judol

Fahrizal gugur di pos UNIFIL di Adchit Al Qusayr, sementara Zulmi dan Muhammad tewas dalam serangan terhadap konvoi logistik di Bani Hayyan. Indonesia menilai serangan tersebut tidak dapat diterima dan menjadi kehilangan besar bagi Indonesia, PBB, serta komunitas internasional yang menjunjung tinggi perdamaian.

Selain korban jiwa, lima personel lainnya mengalami luka, yakni Kapten Sultan Wirdean Maulana, Kopral Rico Pramudia, Kopral Arif Kurniawan, Kopral Bayu Prakoso, dan Kadet Prajurit Deni Rianto. “Para penjaga perdamaian ini gugur dan terluka saat menjalankan mandat Dewan Keamanan,” ujar Umar dilansir dari Antara, Rabu (1/4). Indonesia mendesak pemulangan jenazah dilakukan secara cepat, aman, dan bermartabat, serta meminta perawatan optimal bagi personel yang terluka agar segera pulih sepenuhnya.

Baca Juga :  Donald Trump Sentil Para Sekutunya, Diminta Cari Minyak Sendiri

Ia menolak anggapan bahwa korban berada di zona perang aktif, seraya menekankan pentingnya mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab atas eskalasi konflik tersebut. Baca Juga:Panglima dan Wakil Panglima TNI Sampaikan Duka Cita Pasca Gugurnya 3 Prajurit TNI di Lebanon Selatan. Menurut Umar, ketegangan di Lebanon selatan dipicu serangan berulang militer Israel yang melanggar kedaulatan serta integritas wilayah Lebanon.

Indonesia menilai peningkatan serangan terhadap UNIFIL dalam beberapa pekan terakhir merupakan pola sistematis untuk melemahkan mandat Resolusi 1701. Serangan tersebut menjadi ancaman serius bagi perdamaian global dan berpotensi dikategorikan sebagai kejahatan perang berdasarkan hukum internasional, katanya. (*)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Baca Juga :  Integritas dan Akuntabilitas Harus Jadi Pegangan

Berita Terbaru

Artikel Lainnya