Di tengah keterbatasan anggaran, RSUD Jayapura masih dihadapkan pada berbagai persoalan yang hingga kini belum sepenuhnya teratasi. Masalah ketersediaan air bersih, kekosongan sejumlah obat kemoterapi, serta gangguan pasokan listrik kembali terjadi.
Menurutnya, persoalan-persoalan tersebut bukanlah hal baru, melainkan masalah klasik yang terus berulang dari tahun ke tahun. “Dulu, saat anggaran mencapai ratusan miliar rupiah, obat tetap masih ada yang kurang. Rumah sakit pernah mendapatkan anggaran Rp400 hingga Rp700 miliar, namun keluhan terkait air, obat, dan listrik tetap terjadi,” ungkapnya.
Ia menegaskan, akar persoalan bukan semata-mata terletak pada besaran anggaran, melainkan pada lemahnya perencanaan dan tata kelola rumah sakit. Selama ini, perencanaan kebutuhan obat dinilai belum dilakukan secara matang dan berbasis data, seperti jumlah pasien, jenis penyakit, dosis obat, serta rata-rata kunjungan pasien per bulan.
“Seharusnya ada perencanaan yang jelas berapa jumlah pasien, berapa kebutuhan obat, dan berapa dosis yang dibutuhkan dalam periode tertentu. Selama ini perencanaan tidak matang, obat habis baru dibeli tanpa target yang terukur,” ujarnya.
Selain perencanaan yang lemah, pengelolaan distribusi obat juga menjadi sorotan. Penggunaan obat harus diawasi secara ketat agar tidak terjadi kebocoran atau penggunaan yang tidak sesuai dengan kebutuhan pasien.
Kondisi ini dinilai menjadi salah satu penyebab mengapa, meskipun rumah sakit pernah menerima anggaran ratusan miliar rupiah, persoalan obat, air, dan listrik tetap terjadi.
“Dulu anggaran ratusan miliar, keluhan tetap ada. Sekarang anggaran tinggal sekitar Rp100 miliar, masalahnya juga masih sama. Artinya ini bukan semata soal anggaran, tetapi soal tata kelola yang harus segera diperbaiki agar beban utang tidak terus bertambah,” tegasnya.