Namun demikian, BMKG menjelaskan, karena pasokan uap air harus terbagi ke dalam jumlah inti kondensasi yang jauh lebih banyak, ukuran rata-rata dari setiap tetesan air yang terbentuk tersebut justru cenderung menjadi lebih kecil.
Kondisi ukuran tetesan air yang lebih kecil dan seragam ini kata Finnyalia membawa dampak lanjutan pada proses mikrofisika di dalam awan. Secara khusus, kondisi itu dapat memperlambat proses tumbukan dan penggabungan antartetesan air atau yang disebut sebagai mekanisme collision-coalescence.
“Mekanisme inilah yang memegang peran vital dalam membesarkan ukuran tetesan air hingga cukup berat untuk akhirnya jatuh sebagai butiran hujan ke permukaan Bumi. Akibat terhambatnya proses penggabungan tersebut, dalam kondisi atmosfer tertentu, proses pembentukan hujan dapat mengalami penundaan waktu atau bahkan perubahan pola intensitas secara keseluruhan,” benernya.
Selain memengaruhi pembentukan inti awan, Finnyalia juga menjelaskan bahwa paparan asap karhutla dengan konsentrasi tinggi juga berdampak besar terhadap neraca radiasi matahari dan proses konveksi di atmosfer. (jim/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Namun demikian, BMKG menjelaskan, karena pasokan uap air harus terbagi ke dalam jumlah inti kondensasi yang jauh lebih banyak, ukuran rata-rata dari setiap tetesan air yang terbentuk tersebut justru cenderung menjadi lebih kecil.
Kondisi ukuran tetesan air yang lebih kecil dan seragam ini kata Finnyalia membawa dampak lanjutan pada proses mikrofisika di dalam awan. Secara khusus, kondisi itu dapat memperlambat proses tumbukan dan penggabungan antartetesan air atau yang disebut sebagai mekanisme collision-coalescence.
“Mekanisme inilah yang memegang peran vital dalam membesarkan ukuran tetesan air hingga cukup berat untuk akhirnya jatuh sebagai butiran hujan ke permukaan Bumi. Akibat terhambatnya proses penggabungan tersebut, dalam kondisi atmosfer tertentu, proses pembentukan hujan dapat mengalami penundaan waktu atau bahkan perubahan pola intensitas secara keseluruhan,” benernya.
Selain memengaruhi pembentukan inti awan, Finnyalia juga menjelaskan bahwa paparan asap karhutla dengan konsentrasi tinggi juga berdampak besar terhadap neraca radiasi matahari dan proses konveksi di atmosfer. (jim/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q