JAYAPURA – Selama hampir sepekan Kota Jayapura diselimuti oleh kabut asap. Selama hampir sepekan ini pula, curah hujan menurun. Bahkan, beberapa hari tidak mengalami hujan yang merata. Ketua Tim Kerja Layanan Meteorologi Publik BMKG Wilayah V Jayapura, Finnyalia Napitupulu, memaparkan penjelasan ilmiah secara komprehensif mengenai bagaimana asap karhutla berpotensi memengaruhi proses pembentukan awan dan hujan di atmosfer.
Dalam keterangannya Finnyalia menjelaskan bahwa secara meteorologis, keberadaan asap dari kebakaran hutan dan lahan memegang peranan penting karena membawa partikel aerosol ke dalam lapisan atmosfer.
“Partikel aerosol tertentu dapat berfungsi secara langsung sebagai inti kondensasi awan atau yang dikenal dalam istilah ilmiah sebagai cloud condensation nuclei (CCN),” kata Finnyalia dalam keterangan tertulisnya, Rabu (21/10).
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa kehadiran CCN ini menjadi titik awal bagi uap air di udara untuk mengalami kondensasi dan membentuk tetes-tetes air mikroskopis pembentuk awan. Kendati demikian, peningkatan konsentrasi aerosol akibat asap karhutla memberikan dampak mekanis yang spesifik terhadap pertumbuhan tetes air tersebut.
“Apabila jumlah partikel aerosol di udara meningkat secara signifikan akibat asap pekat, maka jumlah tetesan air yang terbentuk di dalam awan memang akan bertambah banyak,” ungkapnya.
JAYAPURA – Selama hampir sepekan Kota Jayapura diselimuti oleh kabut asap. Selama hampir sepekan ini pula, curah hujan menurun. Bahkan, beberapa hari tidak mengalami hujan yang merata. Ketua Tim Kerja Layanan Meteorologi Publik BMKG Wilayah V Jayapura, Finnyalia Napitupulu, memaparkan penjelasan ilmiah secara komprehensif mengenai bagaimana asap karhutla berpotensi memengaruhi proses pembentukan awan dan hujan di atmosfer.
Dalam keterangannya Finnyalia menjelaskan bahwa secara meteorologis, keberadaan asap dari kebakaran hutan dan lahan memegang peranan penting karena membawa partikel aerosol ke dalam lapisan atmosfer.
“Partikel aerosol tertentu dapat berfungsi secara langsung sebagai inti kondensasi awan atau yang dikenal dalam istilah ilmiah sebagai cloud condensation nuclei (CCN),” kata Finnyalia dalam keterangan tertulisnya, Rabu (21/10).
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa kehadiran CCN ini menjadi titik awal bagi uap air di udara untuk mengalami kondensasi dan membentuk tetes-tetes air mikroskopis pembentuk awan. Kendati demikian, peningkatan konsentrasi aerosol akibat asap karhutla memberikan dampak mekanis yang spesifik terhadap pertumbuhan tetes air tersebut.
“Apabila jumlah partikel aerosol di udara meningkat secara signifikan akibat asap pekat, maka jumlah tetesan air yang terbentuk di dalam awan memang akan bertambah banyak,” ungkapnya.